Tunisia

(al-Jumhuriyyah at-Tunisiyyah)

Tunisia adalah sebuah negara republik di Afrika utara. Sejak sebelum Masehi hingga merdeka, Tunisia terus menjadi koloni bangsa lain: Fenisia, Romawi, Vandal, Bizantium, Arab, Turki, dan Prancis. Islam masuk ke Tunisia pada 670 dan menjadikan Qairawan pusat Islam di Afrika utara. Tunisia berperan dalam sejarah Islam dan turut menentukan kebijakan Timur Tengah.

Republik Tunisia berbatasan dengan Laut Tengah (utara dan timur laut), Libya (timur dan tenggara), dan Aljazair (barat daya dan barat). Luas keseluruhan: 163.610 km2. Penduduk: 12.038.131 (data 2022). Kepadatan penduduk: 76/km2. Agama: Islam (98%). Bahasa resmi: Arab. Ibukota: Tunis (dulu bernama Tarsyisy). Satuan mata uang: Dinar Tunisia (D). Negara ini merdeka pada 20 Maret 1956, kemudian menjadi republik tahun 1957.

Wilayah negara ini dapat dibagi dalam tiga bagian: (1) bagian utara, berupa deretan pegunungan bagian dari Pegunungan Atlas; (2) bagian tengah, berupa dataran rendah, tempat Danau Jerid (Chott el Jerid) yang dikelilingi dataran rendah; dan (3) bagian selatan, berupa gurun pasir. Iklimnya panas dan kering pada musim panas, hangat dan basah pada musim dingin.

Berbagai jenis hasil produksi pertanian merupakan barang ekspor yang mendatangkan devisa, seperti kurma, minyak zaitun, jeruk manis, dan anggur. Dari sektor pertambangan dan bahan galian dihasilkan fosfat, bijih besi, timah hitam, seng, dan bahan semen.

Industri utama meliputi tekstil, pengalengan ikan laut, besi baja, perakitan kendaraan bermotor, kertas, dan gula. Di samping itu, juga banyak objek pariwisata, seperti reruntuhan bangunan Kerajaan Romawi, pemandangan pantai serta pemandian laut di pesisir Laut Tengah, dan Pulau Jerba.

Sejak zaman sebelum Masehi, Tunisia terus-menerus dijadikan daerah koloni oleh bangsa lain, seperti bangsa Fenisia pada 1100 SM dan bangsa Romawi pada 146 SM. Pada zaman sesudah Masehi, Tunisia juga dikuasai bangsa lain, seperti Vandal (Jerman kuno) pada 439, Bizantium pada 534, Arab pada 670, para penjarah Turki dari Asia Kecil pada 1574, dan Prancis pada 1881. Prancis menjadikan Tunisia daerah protektorat sampai memperoleh kemerdekaannya.

Masuknya bangsa Arab berarti masuknya Islam ke Tunisia pada 670, di bawah pimpinan panglima Uqbah bin Nafi. Pada tahun itu pula Uqbah mendirikan Qairawan sebagai pusat operasinya. Selanjutnya, perkembangan Islam di Tunisia ini ditandai dengan berdirinya tigakerajaan yang pernah berkuasa, yaitu: Bani Ziri, Bani Hafs, dan Husainiyah.

Bani Ziri. Pada 361 H/972 M Kerajaan Bani Ziri berdiri di Tunis. Orang Bani Ziri ini adalah keturunan bangsa Barbar, yaitu suatu kabilah dari kalangan bangsa itu yang bernama Sanhaji. Nama kerajaan ini diambil dari nama raja pertamanya, yaitu Yusuf bin Balkin bin Ziri bin Badis.

Berdirinya kerajaan ini dimulai dari orang Barbar yang banyak menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Dinasti Fatimiyah. Ketika Dinasti Fatimiyah akan pindah ke Mesir, al-Mu‘izz (khalifah keempat Dinasti Fatimiyah, memerintah pada tahun 951–975) melantik Yusuf bin Balkin menjadi gubernur untuk Afrika.

Dalam perkembangannya, oleh karena hubungan dengan pemerintah pusat semakin melemah dan raja Fatimiyah di Mesir pun tidak sekuat dahulu lagi, Yusuf bin Balkin berusaha memisahkan diri dan memaklumkan dirinya sebagai raja. Sejak itu Bani Ziri berkuasa di Tunisia dan diperintah oleh delapan orang raja dalam waktu 181 tahun.

Bani Hafs. Setelah Kerajaan Bani Ziri runtuh, berdirilah Kerajaan Bani Hafs. Kerajaan ini dinisbahkan kepada Abu Hafs Umar bin Abi Yahya al-Hantani, salah seorang dari pengikut Muhammad Ibnu Tumart yang mengaku dirinya sebagai al-Mahdi (pemimpin) dan mendirikan Kerajaan Muwahhidun.

Semula, Abu Hafs hanyalah wakil dari Kerajaan Muwahhidun di Tunisia. Tetapi akhirnya pada 603 H/1207 M ia dapat mendirikan kerajaan sendiri yang kuat, bahkan memperluas kekuasaannya sampai ke Eropa dan sebagian besar benua Afrika.

Kerajaan ini mengalami kemunduran setelah keturunannya yang datang belakangan saling berebut kekuasaan dan pengaruh. Keadaan ini segera diketahui oleh Kerajaan Turki Usmani. Bani Hafs dengan mudah ditaklukkan oleh Turki Usmani pada 982 H/1574 M.

Pada saat itu Bani Hafs diperintah Sultan Muhammad bin Hasan dan Turki Usmani dikuasai Sultan Murad III. Masa kekuasaan Bani Hafs berlangsung selama 379 tahun.

Husainiyah. Sejak Kerajaan Bani Hafs jatuh, yang berkuasa di Tunisia adalah Kerajaan Turki Usmani. Kerajaan Turki Usmani biasanya mengirim wakilnya untuk memerintah di sana. Pada 1117 H/1705 M, rakyat Tunisia meminta kepada Kerajaan Turki Usmani agar Husain bin Ali Basya yang memerintah di sana diangkat menjadi raja mereka, dengan diberi gelar Pasya.

Keturunan Husain bin Ali Basya kemudian menjadi pewaris yang diangkat sebagai raja oleh Kerajaan Turki Usmani dengan kekuasaan otonomi penuh. Dalam pada itu, bangsa Prancis selalu berusaha untuk menguasai negeri tersebut, sehingga pada 1881 Muhammad Sadiq Baai menandatangani suatu perjanjian dengan Jenderal Beriar, yang berhasil memasukkan negeri Tunisia itu di bawah kekuasaan Prancis.

Sejak saat itu, Tunisia dikuasai oleh bangsa Prancis sampai negeri itu memperoleh kemerdekaannya pada 1956.

Sejak Tunisia merdeka dan menjadi republik pada 1957, Habib Bourguiba memangku jabatan presiden selama 31 tahun sampai digantikan oleh Presiden El Abidine ben Ali pada 1987. Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat untuk jangka waktu 5 tahun. Dalam pemilu Oktober 1999, ben Ali terpilih untuk ketiga kalinya tanpa saingan.

Presiden Tunisia saat ini (2022) adalah Kais Saied. Pensiunan profesor hukum ini menang telak atas maestro media Nabil Karoui, dalam putaran kedua pemilihan presiden Oktober 2019. Saied, yang berusia 61 tahun ketika terpilih, berkampanye pada platform anti-korupsi, dan menarik langsung pemilih muda.

Dia telah menghadapi banyak kritik atas pandangan konservatifnya tentang homoseksualitas, hak-hak perempuan dan hukuman mati, yang dihentikan pada 1994. Presiden sebelumnya, Beji Caid Essebsi, meninggal saat menjabat pada Juli, setelah memenangkan pemilihan presiden bebas pertama di negara itu pada Desember 2014.

Sedangkan pemerintahan Tunisia saat ini (2022) dipimpin oleh Perdana Menteri Hichem Mechichi. Parlemen menyetujui pemerintahan baru yang dipimpin Hichem Mechichi pada September 2020. Menteri-menteri di  bawah Mechichi adalah para teknokrat yang bebas dari afiliasi ke partai politik. Mereka bertugas mereformasi keuangan publik pada saat krisis ekonomi dan ketidakstabilan politik.

Tunisia memiliki peranan besar dalam sejarah Islam. Jami‘ah Zaitunah merupakan lembaga pendidikan penting di Tunisia. Perguruan tersebut berubah menjadi semacam Institut Ilmu Islam yang berada dalam pengarahan dan control pemerintah Tunisia.

Negara ini aktif dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan turut menentukan dalam pengambilan keputusan tentang kebijakan diplomasi Timur Tengah, terutama yang menyangkut konflik PLO (Palestine Liberation Organization = Organisasi Pembebasan Palestina) dengan Israel.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Nasr, Jamil M. A History of the Maghrib. London: Cambridge University Press, 1985.
Entelis, John P. “Tunisia,” The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World. New York & Oxford: Oxford University Press, 1995.
Hasan, Hasan Ibrahim. Tarikh al-Islam. Cairo: Maktabah an-Nahdah al-Misriyah, 1967.
ar-Rumi, Yakut. Mu‘jam al-Buldan. Beirut: Dar as-Sadr, t.t.
https://www.worldometers.info/world-population/tunisia-population/, diakses pada 14 April 2022.
https://www.bbc.com/news/world-africa-14107241, diakses pada 14 April 2022.

Asmaran As.

Data telah diperbarui oleh Tim Redaksi Ensiklopediaislam.id (April 2022)