KATA PENGANTAR PEMIMPIN REDAKSI

KATA PENGANTAR PEMIMPIN REDAKSI

Abad ke-20 yang telah berlalu merupakan masa perubahan dramatis dalam berbagai tingkat kehidupan, baik secara pribadi dan kemasyarakatan, maupun lokal dan global. Perubahan dramatis itu akan terus mewarnai perjalanan kehidupan dalam abad ke-21. Untuk konteks Indonesia, perubahan paling dramatis justru terjadi pada waktu relatif singkat dalam pergantian abad ke-20 menuju abad ke-21. Masa pergantian abad dan awal abad ke-21 merupakan periode “kebangkitan” bagi kaum muslim Indonesia. Berbagai perubahan pada masa ini mencerminkan dinamika wacana, gerakan, pemikiran, dan lembaga keislaman yang semakin intens dan plural.

Penting dicatat, dalam dinamika wacana, gerakan, pemikiran, dan kelembagaan Islam tersebut, Islam Indonesia tetap memiliki corak khas dan distingtif vis-à-vis wacana, gerakan, dan pemikiran Islam di tempat lain. Dengan corak distingtif itu, banyak kalangan internasional berharap Islam Indonesia mampu memberi kontribusi lebih besar kepada dinamika Islam secara global pada abad ke-21 ini.

Di tengah dinamika dan perkembangan yang memberi harapan itu, khususnya sejak Presiden Soeharto lengser dari kekuasaannya pada 1998, terjadi brain-drain (hijrah) intelektual terbaik di kalangan muslim ke lapangan politik yang diwarnai dengan liberalisasi sangat signifikan. Perkembangan ini tidak hanya mengurangi jumlah intelektual muslim yang mengabdikan diri untuk pengembangan intelektualisme umat Islam secara keseluruhan, tetapi juga dapat berarti mulai terjadinya “pemiskinan intelektual” (intellectual impoverishment). Sebab, intelektual yang terlibat dalam kancah politik cenderung akan kehilangan kemandirian, objektivitas, dan
fairness-nya dan sebaliknya menjadi partisan dan sangat berorientasi kepada kekuasaan.

M

Musa, Nabi

A

AhlulKitab

M

Mantik

I

Ibnu Haitam

M

Maulid Nabi

M

Masjidilharam

Ihwal “kemiskinan” intelektual Islam di Indonesia sudah sering dikeluhkan oleh sebagian kalangan muslim Indonesia. Nurcholish Madjid, misalnya, mengatakan berkali-kali di beberapa forum ilmiah, bahwa kaum muslim, tepatnya intelektual muslim Indonesia, sejauh ini baru bisa menjadi konsumen pemikiran Islam yang berkembang di tempat lain. Menurut dia, mereka belum bisa menjadi produsen pemikiran dan wacana Islam yang kontributif bagi kemajuan kaum muslim internasional dan umat manusia secara keseluruhan. Pernyataan tokoh senior muslim Indonesia ini tampaknya perlu dicermati dan dikritisi. Apakah intelektualisme Islam Indonesia begitu miskin dan, karena itu, hanya menjadi konsumen pemikiran Islam yang berkembang di tempat lain?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus kembali kepada sejarah intelektual (intellectual history) Islam di kawasan ini. Harus diakui, bidang ini merupakan bidang paling terlantar dalam kajian Islam. Ironisnya, para peneliti dan pengkaji Islam di Indonesia lebih banyak mengetahui pemikiran dan wacana Islam di Timur Tengah daripada intelektualisme Islam di Nusantara.

Di pihak lain, sejumlah kajian dalam dua dasawarsa terakhir menyimpulkan kenyataan lain. Mereka menemukan bahwa intelektualisme Islam Nusantara tidaklah semiskin yang diduga sebagian orang. Sejarawan Anthony Reid, misalnya, mencatat bahwa penyebaran tradisi tulis di Nusantara sejak awal abad ke-16 semakin meluas sebagai hasil dari intensifikasi islamisasi. Economic boom dan kejayaan politik kerajaan Islam pada waktu itu memberi dukungan yang sangat kondusif bagi ulama untuk berkarya, sehingga memunculkan apa yang disebut
Reid sebagai “a peak of Islamic scriptural influence.”

Reid juga menegaskan, sejak paruh kedua abad ke-16 karya intelektual berbagai ulama muncul dalam jumlah melimpah (abundance), sebagian sangat bermutu dan halus (sublime), sebagian lagi sangat prosaik dan juga propagandistik. Seperti terlihat dalam penelitian saya sendiri tentang “jaringan ulama”, dalam waktu hanya setengah abad, karya intelektual Islam di Nusantara mencapai puncak tertinggi (greatest heights) dalam karya Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, Abdurrauf Singkel, dan M. Yusuf al-Makassari. Kualitas karya para ulama ini juga tidak perlu diragukan lagi.

Intellectual boom Islam di Nusantara sejak akhir abad ke-16 berlanjut lebih intens pada abad berikutnya. Pada periode ini dapat dicatat ulama produktif seperti Abdus Samad al-Palimbani, Muhammad Arsyad al- Banjari, Muhammad Nafis al-Banjari (abad ke-18); Nawawi al-Bantani, Mahfudzh at-Termasi, Ahmad Rifa’i, Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan Ahmad Khatib Sambas (abad ke-19). Jaringan ulama ini bahkan lebih luas dan mencakup lebih banyak ulama Nusantara yang lain. Sejarawan Australia, M.C. Ricklefs, mengungkapkan bahwa KH Ahmad Mutamakin dari Cabolek, Pati, juga terkait dengan jaringan ulama melalui gurunya Syekh Muhammad Zain al-Yamani di Yaman.

Awal abad ke-20 menandai transisi jaringan ulama dengan munculnya Cairo sebagai pusat intelektualisme Islam internasional di samping Mekah dan Madinah. Dari Cairo:lah muncul tokoh terkemuka seperti Syekh Muhammad Tahir al-Minangkabawi al-Azhari, yang kemudian menjadi salah satu focal point penting modernism Islam ketika ia menerbitkan majalah al-Imam di Singapura pada awal abad ke-20.

Menjelang dan awal milenium baru, tidak diragukan lagi, wacana intelektual Islam Indonesia semakin luas dan rumit. Sumber intelektual yang memperkaya pemikiran dan wacana Islam tidak lagi terbatas pada Mekah. Madinah, dan Cairo, tetapi juga pusat intelektualisme Islam lainnya, bahkan termasuk dunia Barat. Potensi bagi kebangkitan kembali intelektualisme Islam Indonesia seperti pada masa silam tergantung pada kemampuan para ulama, cendekiawan, dan pemikir muslim untuk bertahan dari political temptation; dan sebaliknya mengarahkan minat, perhatian, dan tenaga untuk usaha intelektualisme secara lebih serius.

Intellectual boom dan perubahan lain yang berkaitan dengan Islam yang berlangsung dari abad awal masuknya Islam di Indonesia hingga abad paling akhir itu menjadi bukti kuat bahwa Islam di Indonesia sedang mengalami perkembangan dan kemajuan cukup pesat. Berbagai dinamika Islam yang semakin terungkap dan menemukan momentum itu menjadi alasan kuat untuk merevisi Ensiklopedi Islam ini yang sebelumnya telah mengalami cetak ulang berkali-kali.

Ensiklopedi Islam edisi baru ini menyajikan dan menyertakan entri baru yang memberi informasi dan perspektif baru tentang Islam, khususnya di Indonesia. Perubahan yang terjadi belakangan ini di kalangan umat Islam menjadi alasan kuat untuk memperkaya dan memperluas kajian tentang Islam di Indonesia. Entri baru yang dimuat dalam Ensiklopedi Islam ini menyajikan pengayaan informasi, dan karena itu tentu saja cukup berbeda dengan terbitan sebelumnya.

Ensiklopedi Islam edisi baru ini dirancang untuk menjadi rujukan mutakhir bagi seluruh lapisan masyarakat. Bagi masyarakat akademik dan intelektual, ensiklopedi ini tidak hanya menjadi bahan untuk menunjangpeningkatan pemahaman tentang Islam dan dinamika masyarakat muslim, tetapi juga menjadi bahan yang bermanfaat untuk proses belajar mengajar. Bagi masyarakat awam, ensiklopedi ini menjadi pegangan untuk memahami berbagai aspek Islam dan kehidupan kaum muslim di negeri kita.

Sejak penerbitan awalnya Ensiklopedi Islam ini telah diterima berbagai lapisan masyarakat dengan antusiasme dan kritisisme. Karena itu, kehadiran ensiklopedi ini dengan berbagai perubahan di dalamnya diharapkan juga mendapat sambutan positif dari masyarakat, sekaligus koreksi dan kritik untuk penyempurnaan di masa mendatang.. Wallah a’lam bi as-sawab

Jakarta, 2005

Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A.