Taharah

(Ar.: Thaharah)

Dari segi kebahasaan Thaharah berarti “suci” atau “bersih”; dalam pengertian fikih berarti “bersuci dari segala najis dan hadas”. Dalam ibadah Islam, taharah berperan sangat penting karena harus dilaksanakan sebelum beribadah, misalnya salat harus dilakukan dalam keadaan bersih.

Para fukaha secara sepakat mengatakan bahwa taharah telah disyariatkan di dalam Islam. Pendapat ini didasarkan antara lain atas firman Allah SWT dan beberapa hadis Nabi Muhammad SAW.

”Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah” (QS.74:1–5)

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ’Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud’” (QS.2:125).

Adapun sumber hadis tersebut antara lain hadis yang diriwayatkan Muslim, yang berarti: “Allah tidak menerima salat yang tidak dengan bersuci,” hadis yang diriwayatkan at-Tirmizi tentang keharusan mencuci bejana yang telah dijilat anjing, hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan an-Nasa’i tentang cara membersihkan kencing, hadis yang diriwayatkan Muslim tentang kewajiban mandi setelah bersih dari haid, dan hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim tentang kewajiban berwudu jika sedang berhadas dan hendak melakukan salat.

Bersuci wajib dilakukan apabila seseorang hendak melaksanakan ibadah, seperti salat dan tawaf. Ada dua macam bersuci, yaitu bersuci dari najis dan bersuci dari hadas. Bersuci dari najis dilakukan dengan cara menghilangkan najis dari tempat ia melekat, sedangkan bersuci dari hadas dilakukan dengan wudu atau mandi.

Dalam kondisi tertentu, keduanya dapat diganti dengan tayamum. Adapun alat yang dipakai untuk bersuci adalah air, terutama dalam hal bersuci dari najis. Untuk bersuci dari hadas, selain memakai air, boleh juga memakai tanah atau debu sebagai pengganti air karena alasan tertentu.

Tentang air yang digunakan untuk bersuci, fukaha (ahli fikih) menyebutkan air yang suci dan dapat menyucikan, seperti air hujan, air sungai, air laut, air sumur, air salju, dan air embun.

Selain itu, tidak dapat digunakan untuk bersuci, misalnya air musta‘mal (air yang telah digunakan bersuci walaupun tidak berubah warnanya), air bersih yang bercampur dengan benda-benda suci (seperti air kopi, air teh, air kelapa, dan air limun), dan air yang telah bercampur najis. Selain itu ukurannya harus kurang dari dua kulah; jika lebih dari dua kulah dan tidak berubah sifatnya (bau, rupa, dan rasanya), sah untuk bersuci.

Mengenai tanah atau debu yang boleh dipakai untuk bersuci sebagai ganti wudu, disyaratkan bersih dari segala macam najis.

Bersuci dari segala najis maksudnya membersihkan diri, pakaian, dan tempat dari segala najis yang melekat. Alat yang dipakai bersuci ialah air yang suci dan menyucikan.

Fukaha mengelompokkan najis itu ke dalam tiga kelompok, yaitu najis mugallazah (najis yang berat), najis mukhaffafah (najis yang ringan), dan najis mutawassithah (najis yang sedang). Najis mugallazah ialah najis yang ditimbulkan oleh jilatan anjing. Membersihkan najis ini dilakukan dengan cara mencucinya dengan air sebanyak tujuh kali, satu kali di antaranya dengan air yang bercampur tanah.

Najis mukhaffafah ialah najis yang paling rendah tingkatannya, seperti air kencing bayi laki-laki yang umurnya kurang dari setahun, yang belum makan apa-apa kecuali air susu ibunya. Membersihkan najis ini dengan cara memercikkan air di atasnya sampai bersih.

Adapun najis mutawassithah berupa kotoran manusia atau binatang, air kencing, nanah, darah, bangkai (selain bangkai ikan, belalang, dan mayat manusia), dan najis lain yang tidak termasuk dalam najis mugallazah dan mukhaffafah. Cara membersihkan najis ini ialah dengan menghilangkan najis itu dengan air sampai hilang zat, warna, dan baunya.

Mengenai hadas, fukaha membaginya ke dalam dua macam, yaitu hadas kecil dan hadas besar. Hadas kecil ialah hadas yang dapat dihilangkan dengan jalan wudu dan tayamum. Adapun hadas besar ialah hadas yang dapat disucikan dengan mandi. Sebab yang mewajibkan mandi adalah bersetubuh, keluar mani, meninggal dunia, haid, dan keluar darah nifas.

Selain dengan cara wudu dan mandi, bersuci dari hadas dapat pula dilakukan dengan tayamum. Tayamum ialah bersuci dengan menggunakan tanah atau debu yang bersih, dilakukan sebagai pengganti wudu dan mandi junub karena alasan tertentu, seperti sakit dan kesulitan mendapatkan air.

Daftar Pustaka

al-Buqa, Mustafa. Fiqh al-Mu‘awadah. Damascus: Dar al-Mustaqbal, 1982.
Ibnu Rusyd. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. Beirut: Mu’assasah Nasir li as-Saqafah, t.t.
al-Jaziri, Abdurrahman. al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba‘ah. Beirut: Dar al-Fikr, 1972.
al-Kahlani, Muhammad bin Ismail. Subul as-Salam. Singapura: Sulaiman Mar’i, 1960.
Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama/IAIN. Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam. Ilmu Fiqh. Jakarta, 1983.
Sabiq, Sayid. Fiqh as-Sunnah. Beirut: Dar al-Fikr, 1986.

A. Thib Raya