Sumatra Thawalib

Sumatra Thawalib adalah sebuah organisasi pelajar dari kelompok gerakan pembaruan dan pendidikan Islam.

Organisasi ini bermula dari pengajian di Surau Jembatan Besi (Padangpanjang, Sumatera Barat) yang dipimpin oleh Syekh Haji Abdul Karim Amrullah. Pada 1930, Sumatra Thawalib menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (PMI atau Permi), kemudian menjadi parpol. Karena tekanan pemerintah, Permi bubar, tetapi perguruannya tetap.

Pada 1915 di Padangpanjang dilaksanakan rapat umum yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat. Dalam rapat akbar tersebut seorang tokoh muda, Bagindo Jamaluddin Rasyad, yang baru datang dari Eropa berpidato panjang lebar tentang arti pentingnya organisasi untuk mencapai suatu tujuan bersama.

Ia juga menganjurkan supaya dibentuk sebuah organisasi agar terwujud persatuan dan kesatuan antarsesama. Meskipun Bagindo Jamaluddin Rasyad tidak dipandang sebagai seorang tokoh agama, pidatonya cukup menggugah murid Surau Jembatan Besi.

Atas inisiatif salah seorang murid surau tersebut, Haji Habib, akhirnya pada 1916 dibentuk sebuah perkumpulan dengan nama Perkumpulan Sabun. Dinamakan demikian karena aktivitasnya terbatas pada penyediaan keperluan sehari-hari bagi murid Surau Jembatan Besi, seperti sabun, pensil, dan tinta.

Kegiatan Perkumpulan Sabun ini semakin meningkat. Pada tahun 1917 Perkumpulan Sabun sudah dapat menyediakan keperluan pelajar yang lebih luas, seperti menjahit pakaian, mencukur rambut, dan menyetrika pakaian.

Di samping itu, organisasi yang pada mulanya bergerak di bidang koperasi ini juga memiliki beberapa orang petugas tetap yang digaji oleh organisasi. Pada tahun 1918 Perkumpulan Sabun dapat membantu membayar gaji guru di perguruan tersebut.

Pada Februari 1918 Perkumpulan Sabun diubah namanya menjadi Sumatra Thuwailib (Pelajar Kecil Sumatra). Disebut Thuwailib karena anggotanya terdiri dari pelajar Surau Jembatan Besi yang ruang lingkupnya masih kecil.

Sementara itu, Syekh Ibrahim Musa, seorang ulama dan tokoh pembaru di Parabek (sekitar 5 km dari Bukittinggi), ketika mendengar bahwa di Padangpanjang didirikan perkumpulan pelajar dan berkembang baik, juga mendirikan perkumpulan yang sama di suraunya di Parabek.

Perkumpulan pelajar ini diberi nama Jamiatul Ikhwan atau Muzakaratul Ikhwan. Kemudian nama ini diubah menjadi Sumatra Thuwailib, sehingga sama dengan nama organisasi pelajar di Surau Jembatan Besi.

Tidak lama setelah itu, diadakan musyawarah antara Syekh H Abdul Karim Amrullah dan Syekh Ibrahim Musa. Musyawarah ini menghasilkan keputusan penggabungan kedua organisasi, Sumatra Thuwailib di Padangpanjang dan Sumatra Thuwailib di Parabek.

Namanya pun diubah menjadi Sumatra Thawalib (Pelajar Sumatra), sebab anggotanya sudah banyak dan wilayahnya pun semakin luas. Kemudian berdiri pula Sumatra Thawalib di daerah lain, seperti di Sungayang/Batu sangkar, Maninjau, dan salah satu daerah di Padangpanjang.

Pada 1922 dilaksanakan pertemuan di Padangpanjang yang dihadiri wakil dari perkumpulan Sumatra Thawalib tersebut. Pertemuan ini menghasilkan keputusan, yaitu perkumpulan Sumatra Thawalib tersebut bergabung menjadi satu dengan pusatnya di Padangpanjang. Terpilih sebagai ketua adalah H. Jalaluddin Taib dari Padangpanjang.

Masing-masing organisasi Sumatra Thawalib ini mempunyai media cetak. Sumatra Thawalib Padangpanjang menerbitkan majalah al-Munir al-Manar dengan Zainuddin Labay el-Yunusy sebagai pemimpin redaksi dan Abdul Hamid Hakim Engku Mudo, Abdul Wahab Samad, dan Basa Bandaro masing-masing sebagai redaktur, administratur, dan pelindung.

Pengelolaan majalah ini dibantu pula oleh H Dt. Batuah, A.R. Sutan Mansur, dan sejumlah murid yang sudah mengajar. Di Maninjau diterbitkan surat kabar al-Itqan yang dipimpin oleh St. Rais. Di Parabek diterbitkan al-Bayan yang dipimpin Sain al-Maliki dan Jamain Abdul Murad.

Di Sungayang diterbitkan majalah al-Basyir yang dipimpin H Mahmud Yunus. Tetapi semua media ini tidak berusia panjang karena terbentur masalah dana. Hanya al-Muir al-Manar yang dapat bertahan agak lama, sampai Zainuddin Labay el-Yunusy wafat (1924).

Terbentuknya organisasi pelajar di surau itu menyebabkan perguruan di surau tersebut dikenal dengan nama Sumatra Thawalib. Dengan demikian, Sumatra Thawalib bukan hanya nama organisasi pelajar, tetapi juga nama perguruan tersebut.

Di antara lima perguruan Sumatra Thawalib, yang paling maju dan berkembang adalah Sumatra Thawalib Padangpanjang. Ketika masih berbentuk pengajian di Surau Jembatan Besi, sistem yang dipakai adalah sistem halaqah (tanpa kelas). Pada 1916 Surau Jembatan Besi memelopori perubahan sistem, dari sistem halaqah menjadi sistem klasikal.

Pada tahap permulaan ada tiga kelas, yaitu kelas rendah, menengah, dan tinggi. Namun, 3 tahun kemudian (1919) jumlah kelas dikembangkan lagi menjadi tujuh. Kelas rendah dijadikan empat kelas, yaitu kelas satu, dua, tiga, dan empat; sementara kelas menengah dan tinggi dijadikan kelas lima, enam, dan tujuh.

Dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan belajar-mengajar menggunakan meja serta kursi dan sudah ada kewajiban murid untuk membayar uang sekolah.

Dalam waktu singkat Sumatra Thawalib memperoleh simpati masyarakat. Muridnya bukan hanya berasal dari lingkungan Sumatera Barat, tetapi juga dari Aceh, Lampung, dan Palembang.

Bahkan ada murid yang datang dari Malaysia. Di samping itu, banyak pula didirikan perguruan yang berhubungan dengan Sumatra Thawalib, baik dengan menggunakan nama yang sama maupun berbeda, seperti Sumatra Thawalib di Tapaktuan dan Muhibbul Ihsan di Bengkulu.

Sumatra Thawalib di Tapaktuan diresmikan sendiri oleh Syekh H Abdul Karim Amrullah. Sesuai permintaan, Syekh H Abdul Karim Amrullah juga membawa H Jalaluddin Taib ke Tapaktuan yang bertugas sebagai guru. Kemudian berturut-turut diutus pula para guru ke daerah ini, yaitu H Syu’ib el-Yunusy dan Labai Majolelo.

Peranan penting yang dimainkan Sumatra Thawalib adalah pembaruan di bidang agama dan pendidikan Islam. Di bidang pendidikan, organisasi ini tidak hanya memelopori penerapan sistem klasikal di surau, tetapi juga melakukan pembaruan sistem belajar-mengajar dan kurikulum.

Kitab yang digunakan berbeda dengan surau yang lain. Pada 1918 sudah diajarkan kitab seperti Bidayah al-Mujtahid (Permulaan Bagi Mujtahid) karya Ibnu Rusyd, al-Islam Ruh al-Madaniyyah (Islam Sebagai Jiwa Peradaban) karya al-Gulayaini, dan Al-Qur’an wa ‘Ulum al-‘Asriyyah (Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern) karya Syekh Tantawi Jauhari.

Keadaan muridnya juga ditingkatkan, misalnya mereka diharuskan berpakaian bersih dengan rambut disisir rapi dan kadang-kadang diharuskan memakai dasi.

Pada tahun 1923, Datuk Batuah, salah seorang guru Sumatra Thawalib, tiba dari Jawa. Ia masuk ke perguruan ini membawa paham radikal dan giat menyebarluaskannya, sehingga paham tersebut berkembang di Sumatra Thawalib, baik di kalangan murid maupun gurunya.

Paham radikal yang dikembangkan mempunyai ciri, yaitu menentang penjajahan Belanda. Oleh karena itu, paham ini cepat mendapat perhatian dan simpati warga Sumatra Thawalib.

Pada 1930 Sumatra Thawalib diubah menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (PMI atau Permi). Pada tahap permulaan sifatnya tidak berubah, tetapi 2 tahun kemudian (1932) Permi berubah menjadi sebuah partai politik. Tokoh utamanya adalah H Ilyas Yakub, Mokhtar Luthfi, dan H Jalaluddin Taib.

Karena beberapa sekolah Sumatra Thawalib merupakan pendukung Permi, organisasi ini menjadi sebuah perkumpulan terbesar di Minangkabau. Namun, pada 1933 tekanan dari pemerintah Belanda sangat keras.

Para pemimpinnya dibuang ke Digul. Guru Sumatra Thawalib yang ikut berpartisipasi dalam Permi dilarang mengajar. Para pelajarnya pun diintimidasi agar berhenti belajar di sekolah tersebut. Hal ini mengakibatkan jumlah pelajar di Padangpanjang yang pada 1930 mencapai 1.300 orang berkurang pada 1934 sebanyak 400 orang.

Sekolah yang berada di luar Padangpanjang dan Parabek terpaksa ditutup. Sejak 1934 sekolah Sumatra Thawalib terus mengalami kemunduran. Peristiwa tersebut menyebabkan Permi tidak bisa bergerak dan akhirnya pada 1937 Permi bubar.

Meskipun demikian, perguruan Sumatra Thawalib Padangpanjang dan Parabek tetap tidak dibubarkan.

Daftar Pustaka

HAMKA. Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera. Jakarta: Umminda, 1982.
Noer, Deliar. The Modernist Muslim Movement in Indonesia, atau Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942), terj. Jakarta: LP3ES, 1980.
Steenbrink, Karel A. Pesantren Madrasah Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, Jakarta: LP3ES, 1985.
Suminto, Aqib. Politik Islam Hindia Belanda. Jakarta: LP3ES, 1985.
Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Hidakarya, 1985.

Noorwahidah Haisy