Nuh, Nabi

Berabad-abad setelah Nabi Idris AS wafat, penduduk Armenia mulai menyimpang dari ajaran akidah yang dibawa Nabi Idris AS. Melihat kekufuran penduduk Armenia, Allah SWT mengutus seorang nabi yang bernama Nuh untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Ia adalah keturunan Nabi Adam AS dan Nabi Idris AS. Ayahnya bernama Lamik bin Metusyalih bin Idris.

Nuh menerima risalah kenabian pada usia 480 tahun dan berdakwah selama 5 abad. Ia merupakan keturunan kesembilan dari Nabi Adam AS dan ketiga dari Nabi Idris AS. Nabi Nuh AS hidup selama 950 tahun. Ia mempunyai istri bernama Wafilah dan empat orang putra, yaitu Syam, Khan, Yafits, dan Kanaan.

Nabi Nuh AS termasuk salah satu rasul dalam kelompok ulul azmi (orang yang mempunyai kemauan yang kuat dan teguh), karena kesabarannya dalam menghadapi kaumnya.

Ia berdakwah selama 5 abad dan hanya mendapat 70–80 pengikut, itu pun berasal dari kalangan lemah. Ia menghadapi kaumnya dengan sabar dan bijaksana. Siang dan malam, ia terus berusaha mengajak mereka kembali beribadah kepada Allah SWT.

Umat Nabi Nuh AS adalah penyembah berhala. Dalam Al-Qur’an surah Nuh (71) ayat 23, disebutkan bahwa mereka menyembah beberapa berhala: Wadd, Suwa, Yaghut, Ya’uq, dan Nasr.

“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan)-Wadd, dan jangan pula Suwa, Yaghut, Ya’uq, dan Nasr’” (QS.71:23).

Kaum Nabi Nuh AS menamai berhala mereka dengan nama kenalan atau kerabat mereka yang telah meninggal dunia. Untuk menghormati orang mati tersebut, mereka menyembah patung berhalanya. Nabi Nuh AS mengingatkan perbuatan umatnya, namun mereka menutup telinga, bahkan menentang ajarannya.

Puluhan tahun Nabi Nuh AS berdakwah, tetapi umatnya tidak mau mengikuti ajarannya dan tetap menyembah berhala. Bahkan mereka sering kali menganiaya Nabi Nuh AS dan pengikutnya. Untuk itu Nabi Nuh AS meminta agar Allah SWT menurunkan azab bagi mereka.

Allah SWT mengabulkan permintaan Nuh. Agar umat Nuh yang beriman terhindar dari azab tersebut, Allah SWT memerintahkan Nuh untuk membuat perahu. Bersama para pengikutnya, Nuh mengumpulkan paku dan menebang kayu besar dari pohon yang ia tanam selama 40 tahun.

Melalui wahyu-Nya, Allah SWT membimbing Nuh membuat perahu yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir. Perahu Nuh merupakan alat angkutan laut pertama di dunia.

Untuk menghindari azab serta menampung para pengikut Nabi Nuh AS dan seluruh jenis hewan di muka bumi, Nabi Nuh AS dan pengikutnya membangun sebuah perahu besar. Setelah bahteranya selesai, para pengikut Nabi Nuh AS dan segala jenis hewan secara berpasang-pasangan masuk ke dalam perahu tersebut.

Dengan izin Allah SWT, air tercurah dari langit dan memancar dari bumi. Banjir pun mulai melanda kota, desa, daratan dan puncak bukit. Ketika air semakin tinggi, kapal Nabi Nuh AS mulai bergerak dan ia berkata,

“Naiklah kamu sekalian kedalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS.11:41).

Penduduk Armenia berusaha menyelamatkan diri dari banjir yang melanda negeri mereka. Namun mereka tak kuasa menghindari azab Allah SWT itu, sehingga semua akhirnya lenyap ditelan banjir.

Dari keempat putra Nabi Nuh AS, hanya tiga orang yang selamat dari bencana banjir, karena taat serta mengikuti ajaran yang dibawa ayahnya. Adapun seorang lagi, yaitu Kanaan, tewas tenggelam karena azab Allah SWT itu. Nabi Nuh AS merasa sedih karena anaknya tidak mau mengikuti ajarannya.

Namun ia sadar bahwa putranya itu termasuk orang kafir yang diazab Allah SWT. Ketika banjir datang, Nabi Nuh AS masih sempat melihat Kanaan sedang berjuang menyelamatkan diri. Karena cintanya, Nabi Nuh AS mengajak anaknya itu.

Namun sang anak tidak menghiraukan dan akhirnya tenggelam ditelan banjir besar. Kisah tragis Kanaan ini diceritakan dalam firman Allah SWT yang berarti: “Dan Nuh memanggil anaknya (Kanaan) sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir’.

Anaknya menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata, ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang’. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan” (QS.11:42–43).

Setelah banjir besar, langit berangsur-angsur cerah dan bumi mengisap air banjir. Perahu Nabi Nuh AS akhirnya terdampar di Bukit Judi terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia.

Firman Allah SWT, “Dan difirmankan, ‘Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah’, dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan, ‘Binasalah orang-orang yang zalim’” (QS.11:44)

Allah SWT telah melaksanakan janjinya dengan membinasakan orang-orang yang kafir kepada Nabi Nuh AS dan menyelamatkan orang-orang beriman. Nabi Nuh AS dan para pengikutnya keluar dari kapal.

Mereka mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah menyelamatkan mereka dari azab banjir. Tak lama setelah itu, kaum Nuh membangun perkampungan di tempat yang baru. Mereka lalu berkembang biak, sehingga pengikut Nuh semakin banyak.

Ada pula dari keturunan mereka kemudian merantau meninggalkan tempat itu dan mencari tempat baru. Konon, mereka pindah ke tempat yang kini menjadi daratan Eropa dan Afrika.

Kisah Nabi Nuh AS dalam Al-Qur’an juga terdapat dalam surah Nuh (71), surah Ali ‘Imran (3) ayat 33, surah an-Nisa’ (4) ayat 163, surah al-An‘am (6) ayat 84, surah al-A‘raf (7) ayat 59–64, surah Yunus (10) ayat 71–73, surah Hud (11) ayat 25–49, surah al-Anbiya’ (21) ayat 76–77, surah al-Mu’minun (23) ayat 23–31, surah al-Furqan (25) ayat 37–38. surah asy-Syu‘ara’ (26) ayat 105–122, surah al-‘Ankabut (29) ayat 14–15, surah as-saffat (37) ayat 75–82, surah al-Mu’min (40) ayat 5–6, dan surah al-Qamar (54) ayat 9–16.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Bey. Rangkaian Cerita dalam Al-Qur’an. Bandung: al-Ma‘arif, 1986.
Daruzah, Muhammad Izzah. Sirah ar-Rasul. Cairo: Matba‘ah ‘Isa al-Babi al-Halabi wa Syirkah, 1965.
an‑Naisaburi, Abu Ishak Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim. Qasas al‑Anbiya’. Singapura: Sulainian Nar’i, t.t.
as-Sa’labi, al-Imam bin Ishaq Ahmad bin Ibrahim. Qisas al-Anbiya’ al-Musamma bi al-‘Ara’is. Beirut: asy-Sya‘biyah, t.t.
asy-Syami, Muhammad Yusuf as-Salihi. Subul al-Huda wa ar-Rasyad. Cairo: Jumhuriyah Misr al-Arabiyah li Jinnah Ihya at-Turas al-Islami, 1973.
Nasaruddin Umar