Khomeini

(Khomein, Iran, 17 Mei 1900 - Teheran, 4 Juni 1989)

Tokoh terpenting Revolusi Islam Iran adalah Ayatullah Ruhollah Khomeini, pemimpin karismatik Syiah Iran. Ia berhasil menurunkan Mohammad Reza Pahlevi (syah Iran) dari takhtanya. Ia dikenal sebagai tokoh cerdas, disiplin, dan rajin. Ia digelari “ayatullah” karena ilmu dan karisma kepemimpinannya. Ia mengkritik Syah Iran yang korup dan sekuler. Ketika Syah Iran terguling (1979), ia memimpin Iran hingga wafat.

Nama kecil Khomeini adalah Ruhollah (serupa dengan gelar yang diberikan kepada Nabi Isa AS [QS.4:171]). Nama aslinya adalah Ruhollah Moussavi. Tokoh terkenal Islam Iran ini menggulingkan rezim Syah Mohammad Reza Pahlevi dan mendirikan Republik Islam Iran melalui revolusi rakyat yang spektakuler pada Februari 1979.

Penambahan huruf i di belakang namanya, Khomeini, menunjukkan bahwa ia berasal dari Khomein, kota kecil yang terletak tidak jauh dari kota Arak (Iran bagian tengah). Adapun kata Ayatullah atau Ayatullah al-Uzma di depan namanya menunjukkan bahwa ia seorang ulama terkemuka dalam masyarakat Syiah Dua Belas (Syiah).

Khomeini telah ditinggalkan orangtuanya sejak bayi. Ayahnya bernama Sayid Mustafa Khomeini, seorang ulama terkemuka di kota Khomein. Ayahnya dibunuh kaki tangan Dinasti Qajar yang tidak suka melihat Mustafa Khomeini menentang kekuasaan mereka.

Sesuai dengan tradisi masyarakat Iran pada saat itu, Khomeini mengenyam pendidikan dasarnya dari beberapa guru dan pemuka agama di kotanya. Orang yang paling berjasa memberikan dasar pengetahuan agama kepadanya adalah kakak kandungnya sendiri, Ayatullah Pasandideh.

Pada usia 19 tahun, Khomeini melanjutkan pendidikannya di Pusat Pendidikan Agama atau Hauzah ‘Ilmiyah (istilah bagi pola atau metode pendidikan agama tradisional di lingkungan masyarakat Syiah, baik di Iran maupun di Irak, yang masih dipertahankan hingga kini) yang terdapat di kota Arak.

Pendidikannya ini berlangsung di bawah bimbingan Ayatullah Syekh Abdul Karim Hairi Yazdi, seorang ulama terkemuka pada masanya dan yang mempunyai andil besar dalam mengembangkan Hauzah ‘Ilmiyah di kota Qum, Iran. Setahun kemudian, bersama dengan gurunya, Khomeini pindah ke Hauzah ‘Ilmiyah di kota Qum.

Di kota itu, selain mendalami ilmu fikih, Khomeini juga mendalami ilmu filsafat dan ‘irfan (asal kata ma‘rifah: mengenal Tuhan). Dalam dua bidang terakhir, Khomeini belajar langsung dari Syekh Muhammad Ali Syah Abadi, seorang filsuf yang arif dan terkenal dari Iran.

Dalam usia yang relatif muda, Khomeini telah mencapai tingkatan mujtahid dalam bidang hukum Islam (dalam tradisi Syiah untuk mencapai jenjang tersebut diperlukan persyaratan yang cukup sulit, baik dalam akhlak maupun dalam keluasan pengetahuan). Dengan demikian, ia mempunyai wewenang untuk mengeluarkan fatwa yang kemudian dianut masyarakat Syiah.

Oleh karena itu ketika Ayatullah Burujurdi, tokoh utama Syiah pada masanya, wafat pada 1961, Khomeini dipilih masyarakat Syiah di Iran sebagai salah seorang marja‘ dini (asal kata: raja‘a: kembali), maksudnya sebagai tempat kembalinya umat dalam persoalan agama atau pucuk pimpinan spiritual dalam masyarakat Syiah.

Ajaran Khomeini dapat dijumpai dalam karyanya. Bukunya yang berjudul al-hukumah al-Islamiyyah (Pemerintahan Islam) merupakan karyanya yang paling populer. Buku itu merupakan kumpulan kuliah Khomeini yang diberikannya mulai 13 Zulkaidah hingga 1 Zulhijah 1389 di Hauzah ‘Ilmiyah Najaf (Irak). Dari sini tertuang pandangan Khomeini dalam bidang politik, terutama mengenai ide negara Islam yang berdasarkan prinsip wilayah al-faqih (kepemimpinan kaum ulama).

Ide untuk mendirikan negara Islam telah tertanam pada diri Khomeini sejak ia masih muda. Dalam bukunya yang berjudul Kasyf al-Asrar (Penyingkapan Rahasia; 1941), Khomeini mengkritik kesewenangan Reza Syah (bapak dari Syah Mohammad Reza Pahlevi) serta mengimbau ulama supaya terlibat dalam politik.

Pada tahun 1950-an Ayatullah Kasyani bersama dengan Mossadeq, Dr. Mohammad Hidayat Mossadeq (pemimpin politik Iran) berhasil menyingkirkan Reza Syah. Khomeini mendukung Ayatullah Kasyani dan meningkatkan oposisinya terhadap monarki di Iran. Pada saat itu nama Khomeini belum mencuat ke permukaan karena tertutup popularitas Ayatullah Burujurdi dan Ayatullah Kasyani sendiri.

Khomeini dikenal luas ketika pada 1963 memprotes dengan kebijaksanaan Syah di bidang pertanahan (program land reform) dan wanita, yang dikenal dengan nama Program Revolusi Putih. Menurut Khomeini, kebijakan Syah di bidang pertanahan dengan programnya justru akan menghancurkan secara total ekonomi agraris di Iran.

Selain itu kebijakan tersebut juga akan membuat rakyat menjadi budak sejumlah konglomerat yang didominasi keluarga kerajaan, sekelompok orang kaya Iran, dan perusahaan asing. Menurut Khomeini, emansipasi wanita yang diterapkan Syah justru akan merendahkan martabat wanita itu sendiri dan akan menciptakan kerusakan moral masyarakat.

Khomeini menyerukan perlawanan terhadap Syah yang dianggapnya memusuhi Islam, terutama ketika tak lama kemudian Syah menyetujui desakan Amerika Serikat (AS) untuk menetapkan undang-undang mengenai kekebalan personel militer AS di Iran. Dalam penilaian Khomeini, konsesi yang telah diberikan Syah kepada AS itu menghina rakyat Iran dan kaum muslimin secara umum.

Seruan Khomeini itu ditanggapi rakyat. Protes terhadap Syah terjadi di mana-mana. Tetapi Syah menanggapi protes itu dengan kekerasan sehingga menimbulkan korban di pihak rakyat, yang paling sedikit berjumlah 15.000 jiwa. Peristiwa itu dikenal dengan nama Tragedi atau Kebangkitan 15 Khurdad (bulan keempat penanggalan Persia).

Setelah itu Khomeini dipenjarakan dan kemudian dibuang ke Turki pada 4 November 1964. Dua tahun kemudian, Khomeini dipindahkan ke Najaf, Irak, kota suci bagi pengikut Syiah, tempat makam Ali bin Abi Thalib.

Selama di Najaf, walaupun ditekan rezim Ba’as Irak, Khomeini tidak pernah mengurangi kegiatan politiknya menentang Syah. Bagi Khomeini, Islam baru dapat berjalan di Iran apabila sistem monarki dihapuskan dari Iran. Untuk itulah dalam berbagai kesempatan dan cara Khomeini memimpin gerakan perlawanan terhadap Syah.

Pidatonya dalam bahasa Persia, pernyataan tertulisnya, maupun instruksi politiknya dengan cepat menyebar di Iran. Jaringan perlawanan yang diciptakan Khomeini yang dikendalikan kaum Mullah, universiter, dan kaum Bazari (kaum pedagang Iran) meneruskannya ke seluruh pelosok di Iran, sehingga rakyat tetap di bawah kendali Khomeini.

Ketika sebuah surat kabar resmi pemerintah di Iran pada 7 Januari 1978 memuat tulisan yang menghina kaum ulama karena dianggap menolak modernisasi, meletuslah demonstrasi kaum Mullah di kota suci Qum yang berakibat jatuhnya puluhan korban di pihak kaum Mullah dan rakyat yang mendukung mereka. Khomeini menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum untuk menggerakkan rakyat secara massal menentang Syah.

Rakyat yang sudah tidak percaya lagi kepada Syah menyambut seruan Khomeini ini dengan antusias. Sejak saat itu sampai tanggal 22 Bahman 1357 HS (Hijriah Syamsiah; penanggalan Hijriah berdasarkan peredaran matahari yang berlaku resmi di Iran) atau 11 Februari 1979 rakyat melancarkan revolusi yang menuntut agar sistem monarki di Iran ditumbangkan dan negara Islam didirikan.

Sebelumnya, pada 1 Februari 1979, Khomeini kembali ke Iran setelah kurang lebih 15 tahun berada di pengasingan. Hanya 10 hari setelah itu ia berhasil menumbangkan sistem monarki di Iran. Selanjutnya ia dipilih rakyat sebagai penguasa tertinggi dalam sistem republik Islam yang berlandaskan pada wilayah al-faqih.

Selama 10 tahun masa kepemimpinannya, Khomeini mencoba menjalankan sepenuhnya prinsip syariat dalam segala bidang. Semua institusi yang melanggar syariat, seperti tempat perjudian dan pelacuran yang menjamur di zaman Syah, dihancurkan. Ia menerapkan hukuman yang keras terhadap mereka yang melanggar syariat.

Khomeini yang sejak semula meyakini prinsip perjuangan mustad‘afin (kaum tertindas) melawan mustakbirin (kaum yang angkuh) mencoba melaksanakannya dengan utuh. Untuk itu, kebijakan pembangunan yang dilancarkannya berpusat pada kepentingan rakyat kecil.

Di samping itu, ia sangat membenci AS dan sekutunya yang dianggapnya sebagai biang keladi kerusakan umat manusia. Dalam masa Khomeini terjadi penyanderaan terhadap para diplomat Amerika Serikat yang berada di Teheran.

Sebagai penganut ajaran Syiah, Khomeini menganggap bahwa Islam tidak dapat dipisahkan dari politik. Menurutnya, Nabi Muhammad SAW dan imam Syiah Dua Belas tidak hanya merupakan pemimpin spiritual, tetapi sekaligus pemimpin politik. Oleh karena itu, dalam pandangan Khomeini, negara Islam harus diwujudkan.

Hal itu, selain merupakan bagian dari ajaran Islam yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan politik, juga menjamin berlakunya syariat Islam dan mencegah kemunkaran.

Negara Islam yang dimaksudkan Khomeini adalah yang berdasarkan pada prinsip wilayah al-faqih, suatu konsep politik yang disimpulkan Khomeini dari prinsip imamah dalam Syiah Dua Belas pada masa kegaiban Imam Mahdi.

Menurut Khomeini, dalam wilayah al-faqih, kekuasaan tertinggi negara ada pada seorang fakih (ahli agama Islam) yang bersikap ‘adil (takwa dan patuh menjalankan syariat), berkemampuan tinggi, dan disepakati oleh mayoritas rakyat. Menurut Khomeini, seorang fakih harus patuh pada undang-undang.

Apabila sudah tidak memenuhi syarat memimpin negara lagi, seorang fakih dapat diberhentikan dari jabatannya. Jabatan tertinggi itu disebut dengan wali al-faqih atau fahbar (Persia: pemimpin).

Khomeini terkenal sebagai seorang yang amat bersahaja. Tempat tinggalnya di kota Qum amat sederhana. Meskipun menjadi penguasa tertinggi di Iran, ia hanya menumpang di beberapa kamar yang terdapat pada husainiyyah (semacam surau di Indonesia) Jamaran, Teheran Utara. Pakaian sehari­harinya pun tidak lebih baik dari pakaian rakyat biasa. Hal itu dapat dipahami karena Khomeini adalah seorang zahid yang tidak suka pada kemewahan duniawi.

Khomeini yang telah mengubah secara total pola hidup masyarakat Iran, dari hidup kebarat-baratan ke kehidupan yang religius, sangat dicintai dan dipatuhi rakyatnya. Apa pun yang diperintahkannya, sekalipun ia tidak diyakini sebagai manusia yang maksum (suci dan terpelihara dari berbuat dosa), segera akan dituruti rakyatnya.

Ketika ia meninggal dunia, jutaan rakyat Iran mengantarkannya ke tempat peristirahatannya terakhir di pekuburan Bihisyti Zahra’, di luar kota Teheran. Di sekitar makamnya dibangun masjid yang amat megah dengan kubah indah yang berlapiskan emas murni.

Khomeini meninggalkan seorang putra, Ahmad Khomeini, dan tiga orang putri. Sebenarnya Khomeini mempunyai dua orang putra. Putranya yang lain, Mustafa Khomeini, salah seorang ulama yang cukup menonjol, telah lebih dahulu meninggal karena dibunuh agen rezim Syah Pahlevi (1977), ketika ia bersama-sama ayahnya berada dalam pengasingan di Irak.

Karya Khomeini, baik yang ditulis secara langsung maupun hasil suntingan muridnya yang disusun dari ceramah Khomeini, baik selama di Iran maupun ketika berada di Turki dan Irak, berjumlah 25 buku.

Karya Khomeini yang menonjol antara lain adalah Tahrir al-Wasilah, Kitab al-Bai‘ (tentang fikih), Jihad Akbar (tentang akhlak), Kasyf al-Asrar, dan Wilayat-e-Faqih atau al-hukumah al-Islamiyyah (tentang­ pemikiran politik).

DAFTAR PUSTAKA

Basri, Syafiq. Iran Pasca Revolusi Sebuah Reportase Perjalanan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987.
Gavahi, Abdol Rahim. Islamic Revolution of Iran, Conceptual Aspects and Religious. Teheran: t.p., t.t.
Mastal, Zubaidi. Ide dan Pemikiran Imam Khumaini. Bandarlampung: Penerbit Yapi, 1989.
__________. Imam Khumaini dan Jalan Menuju Integrasi dan Solidaritas. Bandar lampung: Penerbit Yapi, 1990.
Mutahhari, Murtadha. Kebebasan Berpikir dan Berpendapat dalam Islam. Jakarta: Risalah Masa, 1990.
Sihbudi, M. Riza. Dinamika Revolusi Islam Iran. Jakarta: Pustaka Hidayah, 1989.
Tamara, Nasir. Revolusi Iran. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1980.

Umar Shahab