Kelompok tentara elite Kerajaan Usmani (Ottoman) disebut Janissary. Sekitar 751 H/1330 M, Janissary dibentuk atas prakarsa Alauddin, saudara sulung Orkhan (sultan kedua Kerajaan Usmani) yang memerintah 1324–1360. Mereka memiliki keberanian serta keterampilan perang, dan setia kepada sultan.
Pada awal pembentukannya, anggota Janissary direkrut dari kalangan pemuda nonmuslim (Kristen) di daerah yang tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Usmani. Dalam perkembangan selanjutnya, anggotanya juga diambil dari pemuda beragama Yahudi dan Islam. Mereka dibawa ke Istanbul, dimasukkan ke dalam asrama, diajarkan doktrin kesetiaan kepada kerajaan serta fanatisme kepada sultan, dan dididik pula tentang Islam serta latihan kemiliteran.
Janissary dibentuk guna memenuhi keperluan pasukan infantri untuk menghadapi dan melawan Kerajaan Bizantium. Untuk menjamin kesetiaan anggotanya, kelompok ini dididik menjadi orang Islam sejak masa muda. Setiap 5 tahun, para komandan tentara berkunjung ke Distrik Balkan untuk melaksanakan program wajib militer bagi anak laki-laki Kristen yang berusia antara 10–15 tahun.
Remaja dari Yunani, Macedonia, Albania, Serbia, Bosnia, Hercegovina, dan Bulgaria tersebut dibawa ke Edirne. Sebagai budak sultan, mereka dibagi dan menjadi milik para pejabat istana, penguasa daerah Asia Kecil, dan sultan sendiri. Setelah beberapa tahun tinggal di lingkungan penguasa dan tumbuh menyesuaikan diri dengan tradisi Islam dan Turki, mereka kemudian dimasukkan ke barak militer untuk dilatih.
Setelah selesai dari penggodokan tersebut mereka pada umumnya ditempatkan sebagai petugas dan pengawal istana. Mereka yang lulus dengan nilai di atas rata-rata dimasukkan pada sekolah atau pendidikan para pangeran. Sesudah selesai dari pendidikan tersebut, mereka mendapat kesempatan untuk menduduki posisi dan jabatan di kerajaan.
Meskipun pada mulanya ditugaskan sebagai tentara dalam peperangan, mereka umumnya memegang posisi penting. Janissary, yang pada awalnya adalah pemuda Balkan yang tangguh dan kuat, telah tumbuh sebagai seorang Usmani yang mengawal imperium dengan ketangguhan yang andal.
Sultan Murad II (w. 855 H/1451 M) tercatat sebagai penguasa yang melakukan pengembangan lebih lanjut terhadap pasukan elite ini. Pada masa Sultan Salim I (w. 926 H/1520 M) Janissary memasuki babak kejayaannya dalam sejarah. Pada 1581, ketika para anggotanya diizinkan menikah, Janissary secara alami cenderung menjadi sesuatu yang diwariskan secara turun-temurun.
Sejak abad ke-17, Janissary menguasai situasi politik dan sering kali memveto kebijakan kerajaan yang tidak mereka setujui, bahkan memaksakan pengaruh besar mereka di lingkungan politik. Tidak jarang mereka mendikte pergantian perdana menteri, atau mempertahankan kedudukan seorang pejabat tinggi. Praktek sogok berlangsung sebelum mereka menentukan seorang sultan atau pejabat baru naik takhta.
Posisi kuat Janissary tersebut dari waktu ke waktu semakin mantap karena dukungan spiritual dari Tarekat Bektasyi, salah satu cabang Tarekat Jeseviveh, sebuah aliran tarekat tertua dan sangat berpengaruh di kalangan masyarakat Turki. Tidak sedikit dari kalangan Janissary menjadi anggota organisasi tarekat tersebut.
Janissary juga menjalin kerjasama dengan ulama yang merasa kuatir terhadap usaha pembaruan yang mulai dilakukan di imperium ini. Misalnya, karena ingin melaksanakan pembaruan, antara lain dalam bidang militer, Sultan Salim III akhirnya dijatuhkan dan dibunuh.
Pemberontakan Janissary di masa Sultan Mustafa IV merupakan pembantaian terhadap hampir seluruh keluarga kerajaan, termasuk Sultan. Pada pemberontakan ini Mahmud II sempat meloloskan diri dan kemudian berhasil naik takhta. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Sultan Mahmud II memberi prioritas pada usaha pembentukan satu korps tentara baru yang disebut Muallem Eshkinji.
Pada 1242 H/1826 M Janissary yang tidak senang dengan pembentukan korps tentara baru itu mengadakan pemberontakan selama beberapa hari. Sultan melakukan perlawanan dengan dahsyat seraya membujuk ulama agar mau mendukung gerakan pembasmian Janissary.
Atas restu mufti besar Kerajaan Usmani, Sultan Mahmud II mengeluarkan perintah untuk mengepung dan selanjutnya menghancurkan Janissary. Markas mereka dihancurkan oleh pasukan yang setia, panji perang mereka diangkat, dan dalam suasana perpecahan anggota bekas pasukan elite kerajaan ini dibunuh.
Tarekat Bektasyi yang selama ini menjadi mitra mereka pun dibubarkan. Pengaruh Janissary punah sama sekali ketika pada 1831 Sultan Mahmud II menghapuskan sistem feodal, yakni suatu peraturan mengenai penguasaan tanah yang selama ini hanya menguntungkan pihak Janissary.
DAFTAR PUSTAKA
Abridged, Sir Valentine Chirol. The Turkish Empire. Lahore: Syekh Muhammad Asyraf, 1958.
Bosworth, C.E. Dinasti-Dinasti Islam, terj. Ilyas Hasan. Bandung: Mizan, 1993.
Drake, Nicholas and Elizabeth Davis, ed. The Concise Encyclopaedia of Islam. London: Stacy International, 1989.
Fisher, Sydney Nettleton. The Middle East: A History. New York: Alfred A. Knopf, 1967.
Goldschmidt, Arthur Jr. A Concise History of the Middle East. Cairo: Westview Press, 1983.
Hasan, Hasan Ibrahim. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Kota Kembang, 1989.
Kramers, J.H. “Turk,” First Encyclopaedia of Islam, eds. M. Th. Houtsma, et al. Vol. VIII. Leiden: E.J. Brill, 1987.
Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang, 1988.
Shaw, Stanford J. History of the Ottoman Empire and Modern Turkey. Vol. I & II.Cambridge: Cambridge University Press, 1991.
Syalabi, Ahmad. Mausu‘ah at-Tarikh al-Islami wa al-hadarah al-Islamiyyah. Cairo: an-Nahdah al-Misriyah, 1977.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.
Moch. Qasim Mathar

