Kitab yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Isa AS disebut Injil, seperti disebut dalam surah Ali ‘Imran (3) ayat 3, 48, dan 65; al-Ma’idah (5) ayat 46, 47, 66, dan 110; al-A‘raf (7) ayat 157; at-Taubah (9) ayat 111; al-Fath (48) ayat 29; dan al-hadid (57) ayat 27. Menurut ayat tersebut, Injil berisi wahyu Allah SWT kepada Nabi Isa AS, yakni pokok risalahnya. Dalam Injil tidak terdapat perkataan atau karangan manusia.
Kata “injil” sendiri berasal dari kata Yunani (euangelion) yang berarti “kabar gembira”. Kemudian kata tersebut lewat bahasa Ethiopia (wangel) masuk ke dalam bahasa Arab (injil). Dalam Al-Qur’an kata injil disebutkan sebanyak dua belas kali. Dalam bahasa Indonesia tetap digunakan kata “injil” tanpa perubahan.
Kitab Injil yang ada sekarang berbeda dengan Injil asli yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Isa AS. Hal ini diisyaratkan Allah SWT dalam surah al-Ma’idah (5) ayat 13. Dalam bentuknya yang sekarang, ada sejumlah pengikut Nabi Isa AS yang memasukkan karangannya ke dalam kitab Injil. Mereka adalah Matius, Markus, Lukas, dan Yahya. Karena itu, Injil itu pun dinamakan menurut pengarangnya, yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yahya.
Menurut al-Maududi, pengubahan isi kitab Injil ini, baik dengan mengurangi atau menambahkan kalimat di dalamnya, dilakukan dalam jumlah yang sangat besar dan jelas sehingga kaum Nasrani sendiri mengakui bahwa mereka tidak lagi memiliki kitab yang asli dan hanya memiliki terjemahannya. Dalam perjalanannya selama berabad-abad naskah ini pun telah mengalami banyak perubahan.
Sebagai salah satu kitab samawi (wahyu Allah SWT), Islam mengajarkan agar umat Islam percaya kepada adanya kitab Injil. Dalam rukun iman ia termasuk salah satu perkara yang harus diimani. Hal ini, menurut Hammudah Abdalati, penulis buku Islam in Focus (1975), merupakan konsekuensi logis dari iman kita kepada Allah SWT dan para rasul.
Di samping itu, memang secara jelas Allah SWT memerintahkan orang Islam untuk beriman pada kitab (termasuk kitab Injil) yang Dia turunkan kepada para rasul sebelum turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW (QS.2:4).
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim dari Abdullah bin Umar dikatakan bahwa ketika Rasulullah SAW dimintai keterangan tentang arti iman, ia mengatakan: “Iman itu ialah engkau percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta engkau percaya pada kadar (ketentuan Allah) baik dan buruk.”
Dalam hal ini, menurut Moh. Abdai Rathomy (penerjemah buku Islam ke dalam bahasa Indonesia), yang wajib kita percayai dan kita imani dari Allah SWT hanyalah kitab Injil yang asli.
DAFTAR PUSTAKA
Abdalati, Hammudah. Islam in Focus. Riyadh: International Islamic Federation of Student, 1986.
al-Asqalani, Syihabuddin Abu Fadl Ibnu Hajar. Fath al-Bari fi Syarh al-Bukhari. Cairo: Mustafa al-Babi al-Halabi wa Auladih, 1951.
Hadikusuma, Hilman. Antropologi Agama: Pendekatan Budaya Terhadap Agama Yahudi, Kristen Katolik, Protestan dan Islam. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993.
al-Maududi, Abul A’la. Towards Understanding Islam. Riyadh: One Seeking Mercy of Allah, t.t.
an‑Nawawi, Abu Zakaria Yahya Muhiddin bin Syarf ad‑Dimasqi. Sahih Muslim bi Syarh an‑Nawawi. Cairo: Dar al‑Misriyah, 1924.
Rathomy, Moh. Abdai. Tiga Serangkai Sendi Agama. Bandung: al-Ma‘arif, 1989.
Asmaran As