Ibnu Majah

(Qazwin, Irak, 209 H/824 M–20 Ramadan 273/18 Februari 887)

Ibnu Majah adalah seorang­ ahli hadis, ahli tafsir, dan ahli sejarah Islam. Karya utamanya di bidang hadis adalah Sunan Ibn Majah, salah satu dari enam kitab kumpulan hadis terkenal yang dijuluki al-Kutub as-Sittah (Kitab yang Enam). Lima kitab hadis lainnya adalah Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, dan Sunan an-Nasa’i.

Nama lengkap Ibnu Majah adalah Abu Abdillah Muhammad bin Yazid ar-Raba‘i al-Qazwini. Majah adalah nama gelar (laqab) bagi Yazid, ayahnya, yang di­kenal juga dengan nama Majah Maula Rab’at. Ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa Majah adalah dari Yazid. Apabila pendapat yang terakhir­ ini benar, nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Raba‘i­ al-Qazwini. Akan tetapi, pendapat yang pertamalah yang lebih kuat.

Ibnu Majah mulai belajar sejak masa mudanya. Disebut­kan bahwa ia belajar hadis sejak usia 15 tahun pada seorang guru bernama Ali bin Muhammad at-Tanafasi (w. 233 H/848 M). Pada usia 21 tahun ia mulai mengadakan perjalanan untuk mengumpulkan­ dan menulis hadis.

Negeri yang pernah dikunjunginya untuk itu mencakup antara lain Rayy (Teheran), Basrah, Kufah, Baghdad, Khurasan, Suriah,­ dan Mesir. Dengan cara itu, ia telah mendapatkan hadis dari ulama terkenal di kota dan negeri tersebut, seperti Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Numayr, Hisyam bin Ammar, Ahmad bin al-Azhar, Basyar bin Adam, dan para pengikut Imam Malik dan al-Lays.

Di samping itu, banyak pula yang meriwayatkan hadis dari Ibnu Majah, antara­ lain Ibnu Sibawaih, Muhammad bin Isa as-Saffar, Ishaq bin Mu-hammad, Ali bin Ibrahim­ bin Salamah al-Qattan, Ahmad bin Ibrahim, Sulaiman bin Yazid, dan Ibrahim bin Dinar al-Jarasyi al-Hamdani.

Ibnu Majah telah menyusun kitab dalam berbagai cabang ilmu. Dalam bidang tafsir, ia menulis Tafsir al-Qur’an al-Karim. Ia juga menulis at-Tarikh, karya sejarah yang berisi biografi para periwayat­ hadis sejak awal sampai ke masanya. Karena tidak begitu populer, kedua kitab ter­ sebut di atas ada kemungkinan tidak sampai ke tangan generasi sekarang.

Karyanya yang paling masyhur dalam bidang hadis adalah as-Sunan atau dikenal juga dengan Sunan Ibn MÎjah. Terhadap kitab yang terakhir ini Ibnu Kasir berkata,

“Muhammad bin Yazid bin Majah adalah pengarang kitab as-Sunan yang termasyhur. Kitab ini me­ nunjukkan atau membuktikan kegigihan kerjanya, kedalaman dan keluasan ilmunya, bacaan dan panutannya terhadap tradisi Nabi (as-Sunnah), baik dalam masalah­ usul (akidah) maupun furu‘ (hukum). Kitab ini terdiri dari 32 kitab (bab) dan 150 bab (pasal). Di dalamnya terdapat 4.000 hadis yang berkualitas baik kecuali sebagian kecil saja.”

Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, penulis buku al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfaˆ al-Qur’an (Indeks Al-Qur’an), telah memperinci hadis yang terda­pat dalam kitab ini. Ada 4.341 hadis di dalam­nya. Sejumlah 3.002 di antaranya juga termak­­tub dalam lima kitab kumpulan hadis yang lain. Sebanyak 712 dari 1.339 lainnya lemah, yang dapat dikategorikan­ sebagai­ hadis dusta. Karena banyaknya­ hadis yang lemah itu, sebelum abad ke-4 H ulama belum memasukkannya­ sebagai kitab yang dapat dijadikan standar yang layak menjadi panutan­.

Orang yang pertama kali memasukkan Sunan Ibn Majah ke dalam kitab kumpulan hadis standar sehingga termasuk dalam kitab yang enam (al-Kutub as-Sittah) adalah Abu al-Fadal Muhammad bin Tahir al-Maqdisi. Sebagian ulama memandang al-Muwatta’ (Yang Lembut dan Dermawan) karya Imam Malik lah sebagai kitab yang keenam, bukan Sunan Ibn Majah. Ada pula yang memandang bahwa kitab yang keenam adalah Sunan ad-Darimi (kitab yang menghimpun­ hadis yang dikumpulkan Imam ad-Darimi) atau al-Muntaqa (Pilihan) susunan Ibnu Jarad.

Pendapat Ibnu Tahir al-Maqdisi di atas diikuti Hafiz Abdul Gani al-Maqdisi dalam kitabnya IkmÎl (Peleng­kap). Alasan mereka mendahulukan kitab Sunan Ibn Majah atas al-Muwatta’ adalah karena dalam kitab karya Ibnu Majah terdapat banyak zawa’id, yaitu banyak hadis dalam kitab ini yang tidak terdapat pada lima kitab lainnya.

Pada pertengahan kedua abad ke-7 H, setelah hadis sudah banyak terkitab, usaha yang ditempuh ulama hadis adalah menerbitkan kumpulan hadis itu, menyaringnya, dan menyusun kitab takhrij (menge­luarkan) serta membuat­ kitab Jami‘ (Penghimpun) umum. Di antaranya yang disusun adalah kitab zawa’id; yang terkenal antara lain adalah kitab zawa’id Ibnu Majah. Kitab ini disusun Abu Abbas Ahmad bin Muhammad al-Busiri (w. 840 H/1437 M) dalam kitab yang berjudul Misbah az-Zujajah fi Zawa’id Ibn Majah (Lampu Kaca dalam Tulisan Ibnu Majah).

Hadis yang hanya diriwayatkan oleh Ibnu Majah seperti tersebut di atas kebanyakan­ daif (lemah). Hal itu diketahui dari keteran-gan pensyarahnya, Ibnu Mulaqqin, dalam kitabnya yang berjudul Ma Tamussu­ Ilaihi al-Hajah ‘ala Sunan Ibn Majah (Apa yang Dibutuhkan dalam Sunan Ibnu Majah).

Kitab syarah (penafsiran) Sunan Ibn Majah banyak bermunculan­ pada abad sesudahnya­. Di antara kitab syarah itu terdapat Misbah az-Zujajah Syarh Sunan Ibn MÎjah yang disusun Jalaluddin as-Suyuti (w. 911 H/1505 M) dan Syarh Sunan Ibn Majah (Penjelasan tentang Kitab Sunan Ibnu Majah) yang disusun Muhammad Abdul Hadi as-Sindi (w. 1138 H/1725 M).

Daftar Pustaka

Abu Zahw, Muhammad. al-Hadits wa al-Muhadditsun Au ‘Inayah al-Ummah al-Islamiyyah bi as-Sunnah an-Nabawiyyah. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1984.

al-Asqalani, Syihabuddin Abu Fadl bin Hajar. Tahdzib at-Tahdzib. Hyderabad:Majlis Da’irat al-Ma‘arif Nizamiyah al-Ka’inah fi al-Hind, 1327 H/1909 M.

al-Baqi, Muhammad Fu’ad Abdul. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar al-Fikr, t.t.

al-Khatib, Muhammad Ajaj. Usul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mustalahuh. Beirut: Dar al-Fikr, 1981.

Rachman, Fathur. Ikhtisar Mustalahul Hadis. Bandung: al-Ma‘arif, 1978.

ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. Pokok-Pokok Dirayah Hadis. Jakarta: Bulan Bintang, 1976.

–––––––. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. Jakarta:­ Bulan Bintang, 1974.

at-Tahawani, Zafar Ahmad al-Usmani. Qawa‘id fi ‘Ulum al-Hadits. Beirut: Maktab an-Nahdah, 1976.

Badri Yatim