Mahmud Ghaznawi adalah seorang sultan ke-3 Dinasti Ghaznawiyah yang memerintah 997–1030. Dinasti ini didirikan oleh kakeknya, Alptigin (941), seorang gubernur Khurasan dalam wilayah Dinasti Samaniyah.
Mahmud Ghaznawi adalah seorang pemimpin yang terkenal dan sukses pada Dinasti Ghaznawiyah. Pada masa pemerintahannya, dinasti ini menjadi sebuah kerajaan paling maju dan makmur di Asia Tengah. Mahmud Ghaznawi dikenal sebagai seorang yang saleh dan mempunyai komitmen yang sangat tinggi pada ilmu pengetahuan dan peradaban.
Di bawah pimpinannya, ia berhasil mengembangkan kekuasaan Islam sampai ke India, dalam penaklukan yang berlangsung pada abad ke-11. Pada 1005 ia mengalahkan raja-raja Hindu dan Punjab serta bagian-bagian daerah Sind.
Pada 1009 ia menyerang Nagarakot dan menaklukkannya; 1014 menaklukkan negeri Dawab, dan 1021 menaklukkan Dataran Tinggi Kashmir dan dari arah lain ia berhasil mem-perluas daerahnya sampai ke Bukhara, Transoksania (ma wara‘ an-nahr); 1029 ia menguasai daerah Rayy dan Isfahan.
Dalam rangkaian peperangan berikutnya Mahmud Ghaznawi selama 26 tahun (1000–1026) mampu menundukkan raja-raja Punjab dan kota al-Maltan. Ia dan pasukannya menghancurkan Candi Somanat. Tindakan ini menimbulkan rasa takut di kalangan raja-raja India. Misalnya Raja Haradata karena ketakutannya memeluk Islam bersama dengan 10.000 orang pengikutnya (1020).
Wilayah yang dikuasai Ghaznawi meliputi sebagian wilayah India (termasuk Delhi), Afghanistan, Pakistan, Iran, dan Irak. Pada mulanya Mahmud menganut Mazhab Hanafi, dan bersungguh-sungguh mendalami ilmu hadis dari ulama, tetapi kemudian ia menganggap lebih sesuai pada Mazhab Syafi‘i.
Suatu saat ia mengadakan pentarjihan di kalangan ahli fikih dari kedua mazhab tersebut. Kemudian Mahmud Ghaznawi menyuruh fukaha (ahli fikih) melakukan salat di hadapannya dua rakaat sesuai dengan cara mazhab masing-masing, agar ia dapat memperhatikan dan memilih mana yang terbaik dari keduanya. Akhirnya, Mahmud memilih Mazhab Syafi‘i.
Mahmud selalu memperkuat paham Ahlusunah waljamaah yang dianutnya dan memerangi golongan pengacau dan kelompok bid’ah yang dianggap sesat, seperti Jahmiyah dan Qaramitah.
Perhatiannya pada ilmu pengetahuan sangat besar. Selama pemerintahannya (997–1030), ia telah melaksanakan kegiatan-kegiatan ilmiah, di antaranya sebagai berikut:
(1) Memprakarsai suatu karya besar dalam penulisan tafsir Al-Qur’an berdasarkan metode qiraah dengan penjelasan ilmu nahu dan ilmu sharaf serta bersumber dari hadis sahih. Dalam penyelesaian karya yang penting ini Mahmud Ghaznawi menugaskan ulama terkenal Sijistan. Penulisan tafsir ini menghabiskan biaya sebesar 20.000 dinar.
(2) Membangun madrasah yang besar dan megah sebagai tempat belajar mengajar.
(3) Menganjurkan kepada ulama dan filsuf Islam seperti Ibnu Sina, al-Biruni, Abu Sahl al-Masihi, Ibnu Khamar, dan Abu Nasr al-Arraq yang terhimpun dalam Majelis Ma’mun bin al-Ma’mun agar dapat mengambil manfaat dari ilmu yang mereka miliki.
Keberhasilan Mahmud Ghaznawi dalam perluasan daerah kekuasaan dan bidang ilmu pengetahuan sangat dipengaruhi berbagai faktor, di antaranya:
(1) Kemampuan Mahmud Ghaznawi dan para pendahulunya memilih kota Ghazna yang strategis sebagai ibukota dinastinya dan basis dalam mengadakan ekspansi militer.
(2) Semangat keagamaan dan jihad Mahmud Ghaznawi. Menurut pendapatnya, berperang adalah melaksanakan dakwah Islam bagi orang kafir dan penyembah berhala.
(3) Keinginan memperoleh rampasan perang untuk pembangunan ekonomi, sementara raja-raja Hindu kaya dengan harta.
Mahmud Ghaznawi penguasa Islam yang amat berpengaruh, sehingga Khalifah al-Qadir bi Allah memberikan gelar kepadanya Yamin ad-Daulah (tangan kanan pemerintah) dan Amin ad-Daulah (kepercayaan pemerintah).
Pada pemerintahannya, Dinasti Ghaznawiyah dan kota Ghazna bukan hanya menjadi benteng tempat mempertahankan kekuatan perang, tetapi juga menjadi kota terindah di Asia Tengah dan tempat berkumpulnya ahli dalam segala bidang ilmu agama.
DAFTAR PUSTAKA
Eliot, Sir M.H. The History of India, The Muhammad Period. London: t.p., 1872.
Habib, Muhammad. Sultan Mahmud of Ghazna. t.tp.: t.p., 1927.
Hitti, Philip K. History of The Arabs. London: MacMillan Press, 1974.
Ibnu al-Asir. al-Kamil fi at-aÎrikh. Beirut: Dar al-Ma‘arif, 1966.
Nazim, Muhammad. Life and Times Sultan Mahmud of Ghazna. t.tp.: t.p., 1931.
Spuler, B. “Ghaznawids,” The Encyclopedia of Islam. Bernard Lewis, et al., ed. Leiden: E.J. Brill, 1983.
Syahrin Harahap