Arafah (sekitar 25 km dari Mekah) adalah nama sebuah tempat yang bermakna penting bagi jemaah haji sebagai tempat wukuf. Dalam hadis riwayat at-Tirmizi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda, “al-Hajju ‘arafat” (Haji adalah Arafah, maksudnya wukuf di Arafah). Di tempat inilah Nabi Muhammad SAW terakhir kali berkhotbah tentang inti ajaran Islam.
Berada pada ketinggian 750 kaki di atas permukaan laut, Arafah adalah suatu padang pasir gersang tanpa tumbuhan selama berabad-abad. Sekarang pemerintah Arab Saudi berusaha menghijaukannya, sehingga suasana panas terik yang menyengat berubah menjadi tidak terlalu panas.
Di tengah padang pasir itu terlihat bukit kecil yang dinamakan Jabal ar-Rahmah. Di sini, menurut suatu riwayat, Adam dan Hawa bertemu kembali setelah terpisah jauh sejak mereka berdua terusir dari surga. Mungkin itulah sebabnya perbukitan itu disebut Jabal ar-Rahmah (bukit penuh rahmat). Dalam pertemuan yang penuh rahmat itu, Adam dan Hawa saling mengenal dan memahami keadaan masing-masing. Dari pengetahuan mereka tentang hal tersebut, lahirlah keluarga dan kehidupan sosial yang pertama di dunia.
Di Arafah ini setiap tahun jemaah haji melakukan wukuf untuk memenuhi rukun haji mereka. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai warna kulit, bahasa, ras, dan usia serta bentuk dan kondisi masing-masing. Mereka berpadu sebagai satu ‘bangsa’ yang tidak mengenal batas. Pangkat dan kedudukan serta pengaruh tidak ditonjolkan di sini. Kaum bangsawan maupun orang biasa dipandang sederajat. Semuanya terbungkus dalam pakaian ihram berwarna putih. Mereka berbeda, tetapi satu dalam keyakinan Islam.
Wukuf di Arafah, yaitu berdiam sejenak di salah satu wilayah yang berdekatan dengan Jabal ar-Rahmah, merupakan salah satu rukun haji yang harus dijalankan umat Islam. Tanpa wukuf di Arafah, haji tidak sah menurut hukum Islam.
Semua imam mazhab dalam Islam sepakat bahwa wukuf dimulai pada hari ke-9 bulan Zulhijah tiap tahun dan berakhir pada hari raya Idul Adha. Wukuf dijalankan saat matahari tergelincir ke barat pada hari ke-9 sampai pagi hari raya tanggal 10 Zulhijah keesokan harinya, sebagaimana difatwakan Imam Hanafi dan Imam Syafi‘i.
Imam Malik juga menyebutkan wukuf dimulai dari tenggelamnya matahari 9 Zulhijah hingga fajar keesokan harinya. Sementara Imam Hanbali memfatwakan wukuf dimulai sejak fajar hari ke-9 bulan Zulhijah hingga fajar hari ke-10 keesokan harinya.
Keempat imam mazhab tersebut berpendapat bahwa Arafah ditinggalkan setelah matahari tenggelam di ufuk barat. Dari Arafah jemaah haji bertolak menuju Muzdalifah. Jika Arafah ditinggalkan sebelum terbenam matahari, ibadah haji dipandang sah oleh tiga orang imam (Hanafi, Syafi‘i, dan Hanbali), tetapi dikenakan dam (denda). Sementara itu, Imam Malik memandangnya tidak sah, karena menurut pendapatnya, waktu wukuf baru dimulai ketika matahari tenggelam.
Ketika melakukan wukuf di Arafah, jemaah haji dianjurkan untuk melakukan salat zuhur dan asar serta magrib dan isya secara qasar (pemendekan rakaat salat wajib) dan jamak takdim (penggabungan pelaksanaan salat). Di sela-sela itulah mereka bertalbiah, bertahmid, berdoa, dan membaca Al-Qur’an sebanyak-banyaknya. Mereka terutama melakukannya di terik matahari Arafah, bukan untuk memanggang badan, melainkan untuk memperoleh hikmah yang dalam dari suatu kepatuhan yang mutlak kepada Allah SWT.
Daftar Pustaka
‘Attar, Ahmad Abdul Gafur. Qamus al-Hajj wa al-‘Umrah. Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayiyin, 1979.
al-Azraqi, Abu al-Walid Muhammad bin Abdullah bin Ahmad. Akhbar Makkah wa ma Ja’a fiha min al-Asar. Mekah: Dar as-Saqafah, 1988.
Ibnu Rusyd. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. Beirut: Dar al-Fikr. 1978.
an-Nawawi. al-Iddah fi Manasik al-hajj. Beirut: Dar al-Fikr, 1976.
at-Tabari, Abu al-Abbas Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakar Mihubuddin. al-Qira li Qasidi Ummi al-Qura. t.tp.: Dar al-Fikr, 1983.
Ziyarah, Mahmud Muhammad. Dirasat fi at-Tarikh al-Islami, al-‘Arab Qabla al-Islam, as-Sirah an-Nabawiyyah, al-Khilafah ar-Rasyidah. Cairo: Matba‘ah Dar at-Ta’lif, 1968–1969.
Muchtar Aziz

