Thaha Husein adalah seorang sastrawan, pemikir, dan pembaru Mesir di bidang budaya, politik, pendidikan, dan agama. Ada dua nama samarannya: ‘Amid al-Adab al-‘Arabi (Dekan Sastra Arab), karena berperan sebagai figure penting sastra Arab abad ke-20, dan Qahir az-zulm (Penakluk Kegelapan), karena menaklukkan kecacatannya hingga menjadi tokoh pemikir Mesir.
Ketika berumur 6 tahun Thaha Husein diserang penyakit opthalmia yang menyebabkan kebutaan untuk selamanya. Namun dengan bantuan saudaranya ia dapat mengikuti pendidikan di sebuah kuttab, sekolah tradisional dengan pelajaran pokoknya membaca dan menghafal Al-Qur’an. Belum sampai berusia 9 tahun, ia telah mampu menghafal seluruh ayat Al-Qur’an.
Pada usia 13 tahun (tahun 1902) Thaha Husein melanjutkan studinya di al-Azhar. Di al-Azhar ia mendapat bimbingan dari Syekh Sayid Ali al-Marsafi dalam sastra Arab dan Muhammad Abduh serta Lutfi Sayyid dalam pemikiran modern. Karena kurikulum al-Azhar sangat tradisional, Thaha Husein suka belajar di universitas ini.
Setelah 10 tahun belajar di al-Azhar dan menempuh ujian pada 1912, tim penguji sepakat untuk tidak meluluskannya. Pada tahun itu juga Thaha Husein melanjutkan studinya ke Universitas Cairo.
Di sini ia memperoleh pengetahuan dari para sarjana Barat, seperti F. Littman, Nalliono, dan Santillana. Dari mereka ia dapat menyerap metode Barat modern untuk meneliti sejarah dan kritik sastra. Pada 1914 Thaha Husein memperoleh gelar doktor dari universitas ini dengan disertasi berjudul thikra Abi al-‘Ala (Mengenang Abu al-Ala).
Pada 1915 Thaha Husein melanjutkan studinya di Universitas Sorbonne, Perancis. Ia belajar di bawah bimbingan para guru besar senior, seperti Glatza, Block, Dicke, dan Seignobos dalam bidang sejarah, Lanson dalam bidang sastra Perancis, dan Durkheim dalam bidang filsafat.
Di samping itu, ia juga menerima pengetahuan tentang Al-Qur’an dari Casanova di salah satu akademi. Selama studi di Perancis ia banyak dibantu seorang gadis Perancis bernama Suzanne Bresseau yang berperan selaku sekretaris dan pembacanya dan yang kemudian menjadi istrinya pada 9 Agustus 1917.
Studinya di Sorbonne selesai pada 1919 dengan disertasi berjudul Philosophy Sociale d’Ibn Khaldoun (Filsafat Sosial Ibnu Khaldun). Setelah kembali dari Perancis pada 1919, Thaha Husein banyak melakukan aktivitas untuk membangun peradaban Mesir, seperti yang terlihat dalam tugas yang diembannya.
Pada tahun itu juga ia ditunjuk menjadi guru besar sejarah klasik (Yunani dan Romawi) di Universitas Cairo, kemudian menjadi guru besar sastra Arab, di samping dekan Fakultas Sastra pada universitas yang sama. Pada 1936–1938 ia diangkat kembali menjadi dekan Fakultas Sastra.
Pada 1944 ia diangkat menjadi penasihat Kementerian Pendidikan, yang sekaligus juga menjadi pejabat rektor Universitas Faruq disamping menjadi anggota Badan Administrasi Perpustakaan Nasional, anggota Panitia Siaran Radio Pemerintah Mesir, Panitia Pertukaran Kebudayaan, dan anggota Akademi Fuad untuk bahasa Arab.
Ketika raja membubarkan kabinet Oktober 1944, Thaha Husein turun dari jabatan pemerintah karena ia termasuk anggota Partai Wafd yang setia. Tetapi pada 1949, ketika Partai Wafd menang lagi dalam pemilihan, Thaha Husein mencapai puncak kariernya sebagai menteri Pendidikan sampai 1953.
Selama menjalani rentetan tugas, Thaha Husein menerima sejumlah penghargaan, antara lain:
(1) April 1946 memperoleh gelar doctor honoris causa dari Universitas Montpellier;
(2) 1949 diundang memberi kuliah di Madrid, Sorbonne, London, dan namanya dicalonkan untuk menerima Hadiah Nobel dalam kesusastraan;
(3) 1950 mengunjungi Roma dan menerima gelar doctor honoris causa;
(4) mengunjungi Spanyol untuk meresmikan Institut Faruq/Islamic Studies, dan menjadi anggota Real Academi de la Historia;
(5) menerima Grand Medaille de la lanque Français di Perancis;
(6) menerima gelar doctor honoris causa dari Académie di Inggris;
(7) 1951 menerima gelar doctor honoris causa dari Universitas Oxford dan Universitas Athena.
Dengan kapasitas ilmu dan pengalamannya, Thaha Husein banyak mengemukakan gagasan yang terkadang dinilai kontroversial dan mengejutkan masyarakat Islam di Mesir. Gagasannya meliputi bidang pendidikan, agama, sastra, dan politik. Gagasan tersebut ditulis dalam berbagai bukunya dan media massa, antara lain majalah Kaukab asy-Syauq (Bintang Gelora Cinta), yang merupakan corong Partai Wafd.
Dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, Thaha Husein menulis buku yang sangat terkenal baik di dunia Islam maupun di dunia Barat, berjudul Mustaqbal ats-tsaqafah fi Misr (Masa Depan Kebudayaan di Mesir).
Di dalam buku inilah ia mengemukakan gagasannya di bidang pendidikan dan kebudayaan. Dia berpendapat bahwa kemandekan pendidikan Islam selama berabad-abad disebabkan dua faktor, yakni kegiatan belajar-mengajar yang diantar dalam bahasa asing dan program pendidikan al-Azhar yang konservatif serta ketinggalan zaman. Untuk memajukan Mesir, menurutnya, harus dibangun sekolah yang modern.
Gagasan tersebut dapat terlaksana ketika dia menjabat menteri Pendidikan, dengan program pemberantasan buta huruf, membangun sekolah, dan memperbaiki kurikulum. Atas pengaruhnya lahir dekrit Presiden Gamal Abdel Nasser untuk mendirikan Fakultas Kedokteran, Administrasi Dagang, Pertanian, dan Fakultas Teknik di Universitas al-Azhar. Sistem pendidikan Mesir menurutnya harus didasarkan pada sistem dan metode Eropa yang dilaksanakan secara simultan di berbagai tingkat.
Pada 1950 ia berhasil melembagakan pendidikan bebas bagi setiap anak Mesir tanpa membedakan antara anak orang kaya dan anak orang miskin, dan ia berhasil mendorong setiap negara Arab menerapkan pendidikan universal dan mengembangkan universitas. Dia berpendapat, jika Mesir ingin maju, Mesir harus meniru Barat dalam segala aspeknya, bahkan Mesir sendiri adalah bagian dari Barat. Tidak ada satu bangsa pun di dunia ini yang bisa menghalangi Mesir dalam hal ini.
Bukunya FI asy-Syi‘ri al-Jahili (Syair Jahiliah) yang terbit 1926 bagai ledakan bom menggetarkan Mesir. Ia menerapkan kritik sastra dan metode semantik ketika membicarakan syair jahili (jahiliah), dan menerapkan kritik sejarah ketika mengkaji Al-Qur’an.
Menurutnya sebagian besar sastra Arab jahiliah seperti terdapat dalam buku bukanlah benar-benar berasal dari syair jahiliah, akan tetapi dikarang setelah zaman Islam untuk membela pendapat/argumentasi ahli tata bahasa Arab, para ahli ilmu kalam, ahli hadis, dan ahli tafsir. Berdasarkan pendapat Thaha Husein ini, jika diterapkan pada karya tafsir, dan bahkan pada Al-Qur’an itu sendiri, akan banyak penafsiran yang salah pada waktu itu.
Oleh karena itu, ia mengatakan, jika ingin mengkaji sejarah pra-Islam, kembalilah kepada Al-Qur’an. Pada sisi lain ia berpendapat, mungkin Al-Qur’an berkisah tentang Ibrahim dan Ismail, tetapi hal itu belum cukup sebagai bukti bahwa kisah itu benar-benar terjadi dalam sejarah. Di sini ia mencoba menerapkan kritik sejarah terhadap kisah-kisah dalam Al-Qur’an. Namun bukan berarti ia meragukan isi kitab suci Al-Qur’an yang diyakininya sebagai firman Allah SWT.
Dalam bidang politik ia berpendapat bahwa “politik adalah sesuatu, sedang agama adalah sesuatu yang lain. Pemerintahan yang berlaku di dunia Islam sepanjang sejarah didirikan bukan berdasarkan ajaran Islam melainkan sebagai kepentingan pragmatis. Tegasnya, Islam tidak mengatur sistem politik”.
Buku yang ditulisnya antara lain adalah:
(1) Mustaqbal ats-tsaqafah fi Misr (Masa Depan Peradaban Mesir),
(2) Fi asy-Syi‘r (al-Adabi) al-Jahili (Tentang Syair [Sastra] Jahiliah),
(3) ‘Ala hamisy as-Sirah asy-Syaikhan (Komentar terhadap Sejarah Dua Tokoh), dan
(4) al-Fitnah al-Kubra (Malapetaka Besar dalam Sejarah Islam).
Dengan tulisan-tulisannya, Thaha Husein dapat menyingkirkan berbagai macam fanatik buta yang berkembang di dunia Islam, dan berhasil menyemarakkan kembali keagungan kebudayaan Islam serta menyebarkan pengertian demokrasi di kalangan umat Islam.
Daftar Pustaka
Husein, Thaha. al-Ayyam. Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnany, 1980.
_________. Fi Syi‘r al-Jahili. Beirut: Dar al-Kitab al-Kitab al-Lubnany, 1973.
_________. al-Fitnah al-Kubra. Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnany, 1973.
_________. Mustaqbal ats-tsaqafah fi Misr. Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnany, 1973.
_________. asy-Syaikhan. Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnany, 1973.
Kurayyim, Samih. Ma‘arik Thaha husain al-Adabiyyah wa al-Fikriyyah. Cairo: Dar al-Farhaty, 1977.
_________. Thaha Husain hayatuh wa A‘maluh. Cairo: Dar an-Nahdhah al-Mishriyah, 1974.
Majid, Abdul. Thaha husain Mufakkiran. Aman: t.p., 1976.
Syahrin Harahap