Tantawi Jauhari adalah seorang cendekiawan Mesir, salah seorang pembaru yang memotivasi kaum muslimin untuk menguasai ilmu secara luas. Ia juga ahli di bidang filsafat, dan merupakan salah seorang tokoh “mufasir ilmu” yang memiliki ilmu pengetahuan luas.
Semasa kecilnya, Tantawi Jauhari belajar di al-Ghar sambil membantu orangtuanya sebagai petani. Terdorong keinginan agar ia kelak menjadi orang yang terpelajar, orangtuanya menyuruhnya melanjutkan studi ke al-Azhar, Cairo. Di universitas ini ia bertemu dengan tokoh pembaru terkemuka Mesir, Muhammad Abduh, yang memberikan pengaruh besar bagi pemikiran dan ilmunya, terutama dalam ilmu tafsir, sehingga pada masa berikutnya ia banyak mengikuti pemikirannya.
Ia melanjutkan studinya di Darul Ulum dan menamatkannya pada 1311 H/1893 M. Bimbingan Muhammad Abduh yang telah membuka cakrawala pemikirannya yang demikian luas ketika belajar di al-Azhar membuatnya tidak merasa puas dengan program belajar di Darul Ulum, khususnya dalam bidang tafsir.
Setelah studinya selesai, ia memulai kiprahnya sebagai pendidik. Pada mulanya ia menjadi guru madrasah ibtidaiyah dan tsanawiyah, selanjutnya memberi kuliah di Universitas Darul Ulum. Pada 1912 ia diangkat menjadi dosen di al-Jami‘ah al-Misriyyah dalam mata kuliah Filsafat Islam.
Sebagai seorang cendekiawan, Tantawi selalu aktif mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, baik melalui buku maupun majalah dan surat kabar. Di samping itu, ia aktif menghadiri pertemuan ilmiah dalam berbagai bidang. Ilmu pengetahuan yang lebih menarik perhatiannya adalah ilmu tafsir. Di samping itu, ia juga tertarik pada ilmu fisika, ilmu yang dipandangnya dapat menjadi penangkal atau penangkis kesalahpahaman orang yang menuduh bahwa Islam menentang ilmu dan teknologi modern.
Gagasan dan pemikiran yang membuat Tantawi diperhitungkan dalam jajaran pemikir Islam terlihat dalam tiga hal: (1) obsesinya untuk memajukan daya pikir umat Islam, (2) pentingnya ilmu bahasa dalam menguasai idiom modern, (3) pengkajiannya terhadap Al-Qur’an sebagai satu-satunya kitab suci yang memotivasi pengembangan ilmu.
Tantawi sangat menentang praktek keagamaan yang bid’ah dan taklid, yang menurutnya dapat menyeret umat menjadi terbelakang dan jumud. Ia giat berusaha memaju kan daya pikir umat Islam, menjauhkannya dari kebekuan berpikir dan keterbelakangan, serta menyadarkan mereka akan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan modern.
Untuk menguasai ilmu pengetahuan modern tersebut, Tantawi mendorong masyarakat Mesir untuk memperbanyak pembangunan sekolah, mulai dari sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi.
Salah satu hal penting dalam rangka penguasaan ilmu pengetahuan modern, menurutnya, adalah penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Ia berpendapat, secara garis besar ilmu pengetahuan itu dapat dibagi dua, yakni ilmu bahasa dan ilmu selain bahasa. Ilmu bahasa memegang peranan yang amat penting dalam sebuah studi, sebab merupakan alat untuk menguasai berbagai ilmu.
Selain usaha memerangi bid’ah dan anjuran menguasai bahasa asing, pemikiran penting Tantawi lainnya, bahkan yang terpenting, adalah studinya terhadap Al-Qur’an yang membuktikan bahwa kitab tersebut adalah satu-satunya kitab suci yang memotivasi pengembangan ilmu.
Menurutnya, Al-Qur’an menganjurkan agar kaum muslimin menuntut ilmu dalam arti yang seluas-luasnya. Di dalam kitab suci itu terdapat banyak sekali ayat yang memotivasi agar umat Islam maju dalam berbagai bidang ilmu. Penelitian Tantawi menunjukkan bahwa tidak kurang dari 750 ayat Al-Qur’an mendorong ke arah kemajuan ilmu pengetahuan.
Sangat mengherankan baginya apabila ulama terdahulu hanya menekankan pengkajian Al-Qur’an dalam hal ilmu fikih dan lengah terhadap arahan Al-Qur’an menyangkut ilmu lain, seperti ilmu tumbuhan, biologi, dan ilmu hitung. Berangkat dari penelitian inilah Tantawi menulis kitabnya yang terkenal dan akan terus memperkaya khazanah muslim sepanjang zaman, yaitu al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’anal-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an (Permata dalam Tafsir Al-Qur’an).
Kitab tafsir ini terdiri dari 25 juz. Ia menulisnya ketika ia berumur 60 tahun. Kitab ini memiliki metode pembahasan yang amat berbeda dari kitab tafsir yang lain. Cirinya yang menonjol adalah:
(1) ia banyak merangkum kembali isi tulis-annya yang lain sebelumnya;
(2) ia mengedepankan alasan dalam pendahuluannya mengapa ia menulis kitab ini, yaitu agar umat Islam menyadari betapa pentingnya penguasaan ilmu, seperti fisika, pertanian, pertambangan, matematika, ilmu ukur, ilmu falak, dan ilmu kedokteran;
(3) ia melengkapi penafsirkan ayat yang berhubungan dengan hal alamiah dengan gambar dan foto; dan
(4) ia memuat dalam kitab ini demikian banyak cabang bahasan.
Sebagai seorang cendekiawan, Tantawi sangat produktif menulis untuk menyampaikan pemikirannya, sebab di samp-ing karya tafsir di atas, ia telah menulis atau menerjemahkan tidak kurang dari 30 buah buku, antara lain Al-Qur’an wa ‘Ulum al-‘Asriyyat (Al-Qur’an dan Ilmu Modern) yang memuat berbagai macam ilmu dan teknologi.
Di dalamnya terdapat pembahasan sebanyak 37 judul dan seluruh uraiannya disertai dengan ayat Al-Qur’an yang melandasi kandungan makna yang mengarah kepada ilmu pengetahuan modern.
Di samping itu, masih terdapat karyanya yang lain, seperti Mizan al-Jawahir fi ‘Aja’ibi al-Kawn al-Bahir (Timbangan Mutiara Keajaiban Alam Raya; 1900), Jawahir al-‘Ulum (Mutiara Ilmu; 1904), al-Arwah (Arwah), Nizam al-‘alam wa al-‘Ulum (Aturan Alam dan Ilmu; 1905), Ibn al-Insan (Anak Manusia).
Lainnya: al-Nizam wa al-Islam (Aturan dan Islam), al-hikmah wa al-hukama’ (Hikmah dan Para Ahli Hikmah), Taj al-Murassa (Mahkota yang Kukuh), Jamal al-‘alam (Keindahan Alam), dan Nahdah al-’Ummah wa hayatuha (Kebangkitan Umat dan Kehidupannya). Sebagian dari karya tersebut telah diterjemahkan ke bahasa Eropa.
Daftar Pustaka
Goldziher, Ignas. Madzahib at-Tafsir al-Islami, terj. Abdul Halim an-Najjar. Cairo:Maktabah al-Khaniji, 1955.
Jauhari, Tantawi. al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an. Cairo: Dar al-Babi al-Halabi, 1350 H/1931 M.
Ma’luf, Louis. Munjid al-A’lam. Beirut: Dar as-Sardi, 1973.
al‑Muhtasib, Abdul Majid Abdussalam. Ittijahat at‑Tafsir fi ‘asr al‑hadits. Beirut: Dar al‑Fikr, 1973.
az-Zahabi, Muhammad Husain. at-Tafsir wa al-Mufassirun. Cairo: Dar al-Kutub al-Hadis, 1976.
Syahrin Harahap