Idrisiyah, Tarekat

(Ar.: Tariqah Idrisiyyah)

Idrisiyah adalah persaudaraan tasawuf di Asir, Arab Saudi, pada abad ke-19. Tarekat ini dinamai Idrisiyah (nisbah kepada pendiri: Idris, ayah Ahmad bin Idris), Muhammadiyah (nisbah kepada Nabi­ SAW), atau Ahmadiyah (nisbah kepada Ahmad, nama lain Nabi SAW). Nisbah kepada Nabi SAW menunjukkan­ bahwa tarekat ini ingin berjalan sesuai jalan Nabi SAW, atau menyatu dengan roh Nabi SAW melalui zikir.

Nama lengkap pendiri tarekat ini adalah Sayid Ahmad bin Idris bin Muhammad bin Ali. Ia lahir di Maisur, dekat kota Fez, Maroko, di kawasan Magribi, pada 1173 H/1760 M. Ia berasal dari keluarga saleh sehingga sejak kanak-kanak ia telah memperoleh pendidikan agama dengan belajar Al-Qur’an, hadis, tafsir, akidah Islam, dan fikih. Ia mulai belajar­ tasawuf dari seorang sufi, Abu Mawahib Abdul Wahhab at-Tazi, dan dari Abu Qasim al-Wazir.

Gurunya, Abdul Wahhab at-Tazi, adalah syekh Tarekat Kadiriyah yang meneruskan tarekat ini da­ri Ahmad bin Mubarak, dan yang terakhir ini menerima­ dari Abdul Aziz bin Mas‘ud ad-Dabbag yang dianggap menerima tarekat ini langsung dari Abdul Qadir al-Jailani, yang dipercayai sebagai Nabi Khidir (dalam literatur tasawuf Khidir disebut­ juga al-Qadir). Dari gurunya ini, Ahmad bin Idris mempelajari Tarekat Kadiriyah. Sekalipun demikian,­ ia tidak pernah menyatakan dirinya menjadi pelanjut Tarekat Kadiriyah itu.

Ia kemudian memperdalam pelajaran syariat untuk mengetahui sejauh mana kebenaran ajaran tarekat di daerahnya. Ia tidak menyetujui pengkultusan­ wali yang berselubung di balik tasawuf, yang banyak dilihatnya di kawasan Magribi (terutama Maroko).

Ia tinggalkan­ negeri kelahirannya, dan tak pernah kembali lagi. Pada 1799 ia menetap di Cairo setelah selesai menunaikan ibadah haji. Setelah menuntut ilmu beberapa lama di Cairo, ia pindah ke desa Zainiyah di Propinsi Qina.

Pada 1818 ia kembali ke kota Mekah dan menetap selama 9 tahun. Di Mekah ia menjadi guru tasawuf yang ingin membersihkan tasawuf dari praktek tarekat yang tidak berdasarkan Al-Qur’an dan hadis.

Banyak­ ulama memusuhinya sehingga ia terpaksa pindah ke Zabid pada 1827, dan kemudian ke Sabya di Asir, yang ketika itu menjadi tempat perlindungan pengikut Wahabiyah. Ia diterima kaum Wahabiyah karena ia mendukung­ gerakan pemurnian­ agama. Di Sabya ia menetap sampai akhir hayatnya pada 1253 H/1837 M.

Ajaran Tarekat Idrisiyah.Tarekat Idrisiyah menurut­ pendirinya bertujuan mengamalkan praktek tasawuf yang berdasarkan Al-Qur’an dan sunah Nabi SAW, serta amalan para sahabat yang bersumber pada sunah Nabi SAW. Tarekat ini tidak mengajarkan awrad (wirid) dan adzkar (zikir) tertentu seperti yang biasa diajarkan tarekat lain, dan tidak mengharuskan ikhwan (pengikut) tarekat untuk mengasingkan diri (beruzlah) dari masyarakat ramai.

Uzlah ditentang karena dianggap­ hanya bermanfaat bagi pengembangan diri se­cara individu, tetapi tidak sesuai dengan cita-cita tertinggi Islam, yaitu persatuan umat Islam yang harus diusahakan bersama-sama dengan giat.

Praktek pengkultusan wali, syekh tarekat, ziarah ke kuburan wali untuk mohon pertolongan, juga tidak disetujui­ Tarekat Idrisiyah. Amalan pengikut tarekat ini harus sesuai dengan jalan (tariqah) Al-Qur’an dan sunah Nabi SAW sebagai­ usul (sumber), tidak berpegang pada ijmak (kon­sensus) kecuali dari para sahabat Nabi SAW.

Aspek batin dan aspek zahir (lahir) dari Islam amat diperhatikan tarekat ini, tidak seperti Wahabiyah yang hanya memperhatikan aspek zahir, yaitu syariat, dan menentang aspek batin. Tarekat ini berbeda dengan tarekat lain yang terlalu mementingkan aspek batin dari Islam sampai mela­laikan aspek zahir.

Silsilah para syekh tarekat juga tidak dianggap penting oleh Idrisiyah, sebab menurut pendirinya roh Nabi SAW dapat memberi izin secara langsung untuk membentuk satu tarekat kepada orang yang dipilihnya.

Tarekat Idrisiyah tidak mengenal ajaran seperti ittihad (bersatu dengan Tuhan), hulul, wahdatul wujud (kesatuan wujud) dan ajaran esoterik lainnya yang digambarkan sebagai persatuan­ sufi dengan Tuhan. Yang ingin dicapai tarekat ini bukan persatuan secara mistik (tasawuf) dengan Tuhan, tetapi hanya persatuan dengan roh Nabi SAW melalui perenungan dan zikir.

Diriwayatkan­ bahwa Sayid Ahmad bin Idris sebagai orang yang menguasai ilmu batin dan beroleh kasyf (intuisi, secara harfiah berarti mengangkat tabir/kerudung,­ penyingkapan) pernah mengalami perjumpaan­ dan persatuan rohani dengan roh Nabi SAW. Ahmad bin Idris berkata,

“Saya berjumpa secara rohani dengan Nabi SAW bersama Khidir yang menemaninya. Nabi SAW menyuruh Khidir agar mengajariku zikir­ Tarekat Syaziliyah, maka Khidir mengajarkannya kepadaku di hadapan Nabi SAW. Setelah itu Nabi SAW menyuruh­ Khidir supaya menga-jariku apa yang mencakup semua zikir lainnya, selawat dan istigfar, yang paling mulia dan paling banyak pahalanya. Oleh karena Khidir menanyakan kepa­da Nabi SAW tentang apa yang mesti diajarkannya, maka Nabi SAW sendiri yang langsung mengajarkannya­ kepadaku.”

Pengaruh Idrisiyah. Selama masa awal berdirinya, tarekat yang dipimpin Ahmad bin Idris ini banyak mendapat murid dan pengikut di tanah suci Mekah dan kemudian di kawasan Asir.

Di antara muridnya ada Abdur Rahman bin Sulaiman al-Ahdal yang kelak menjadi mufti di Za­bid, Muhammad Abid as-Sindi yang kelak menjadi syekh di Madinah, Sayid Muhammad bin Ali as-Sanusi (1787–1859) yang kelak menjadi pendiri Tarekat­ Sanusiyah di Libya, Sayid Muhammad al-Madani yang kelak menjadi ulama terkemuka di Madinah, Sayid Muhammad Usman al-Mirgani yang kelak menjadi pelopor Tarekat Mirganiyah, dan Ibrahim ar-Rasyid yang kelak menjadi khalifah Idrisiyah.

Setelah menjadi khalifah Idrisiyah, Ibrahim ar-Rasyid membangun zawiat di Mekah, Luxor (Mesir), dan Dongola (Sudan). Kemudian dua orang murid Ibrahim ar-Rasyid, yaitu Muhammad al-Farisi dan Musa Aga Qasim, menyiarkan­ Tarekat Idrisiyah di Cairo dan Iskandariyah. Seorang murid Ahmad bin Idris, Muhammad Majzub as-Sugayyar (1796–1832), setelah pulang ke negerinya, menyiarkan Idrisiyah di kalangan suku Ja’liyin dan Beja di Sudan.

Di Indonesia diperkirakan Tarekat Idrisiyah dibawa­ Abdul Fattah (1884–1947), ulama kelahiran­ Cidahu, Tasikmalaya. Sekembalinya dari Mekah pada 1932, Abdul Fattah mengajarkan­ tarekat ini di Tasikmalaya. Ia diberi panggilan kehormatan Syekh al-Akbar (guru agung).

Sepeninggal Abdul Fattah, Tarekat Idrisiyah di Tasikmalaya ini dipimpin Syekh Muhammad Dahlan dan berpusat pada Pesantren Fathiyah di Pagendingan,­ Tasikmalaya. Para penganut Tarekat Idrisiyah ini biasanya memelihara jenggot, berpakai­an gamis putih,
dan memakai serban serta selendang hijau. Kaum wanitanya
mengenakan cadar.

Daftar Pustaka
an-Nabhani, Yusuf bin Isma’il. Jam‘ Karamah al-Auliya’. Cairo: Mustafa al-Babi al-Halabi, t.t.

Tirmingham, J. Spencer. The Sufi Orders in Islam. London: Oxford University Press, 1973.

Ziadeh, Nicola A. Sanusiyah. Leiden: E.J. Brill, 1983.

M. Rusydi Khalid